DUBAI,METROSELEBES.COM-Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah situs nuklir utama di Iran, termasuk fasilitas di Bushehr, Isfahan, dan Natanz. Pernyataan resmi disampaikan oleh juru bicara militer Israel pada Kamis pagi, menandai eskalasi signifikan dalam konflik antara kedua negara. Dikutip dari Reuters pada Kamis (19/06/2025).
Baca Juga: Guncangan Politik di Thailand: Bocoran Telepon Picu Krisis Koalisi
Bushehr, satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi secara komersial di Iran, menjadi sorotan utama. Terletak di pesisir Teluk Persia, fasilitas ini diketahui menggunakan bahan bakar nuklir buatan Rusia, yang dikembalikan ke Moskow setelah digunakan sebagai bagian dari upaya mencegah proliferasi senjata nuklir.
Sementara Israel menegaskan bahwa serangan ditujukan pada infrastruktur nuklir yang dianggap berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata, pihak Rusia menyatakan kekhawatiran atas keselamatan fasilitas yang mereka bantu operasikan. Kedutaan Besar Rusia di Teheran merilis pernyataan pada hari yang sama, menegaskan bahwa instalasi di Bushehr tetap beroperasi secara normal dan tidak terdapat ancaman keamanan yang teridentifikasi.
Baca Juga: Bocoran Telepon Rahasia Bongkar Retaknya Hubungan Thailand-Kamboja
Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait klaim serangan ini, namun sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara Iran telah diaktifkan di berbagai wilayah sejak dini hari. Isfahan dan Natanz, yang juga disebut dalam laporan militer Israel, merupakan lokasi fasilitas nuklir penting lain yang selama ini diawasi ketat oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik regional yang lebih luas, terutama mengingat keterlibatan Rusia dalam operasionalisasi Bushehr dan sensitivitas kawasan Teluk Persia sebagai jalur utama perdagangan energi dunia.
Situasi masih terus berkembang, dan perhatian global kini tertuju pada respons Iran serta kemungkinan langkah-langkah diplomatik lanjutan dari komunitas internasional.