Meski begitu, sejumlah kelompok tetap berada di jalan meski jam malam diberlakukan, sehingga polisi melakukan “penangkapan massal”. Hingga Selasa malam, sebanyak 197 orang telah ditangkap, lebih dari dua kali lipat jumlah penangkapan sebelumnya.
Krisis Nasional Imigrasi dan Aksi Protes. Protes ini dipicu oleh kebijakan keras Trump terhadap imigrasi ilegal. Dalam beberapa hari terakhir, petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dilaporkan menangkap lebih dari 2.000 pelanggar imigrasi setiap hari—jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 311 penangkapan per hari di masa pemerintahan Joe Biden pada tahun fiskal 2024.
Aksi solidaritas terhadap para imigran juga terjadi di kota-kota lain seperti New York, Atlanta, dan Chicago. Para demonstran meneriakkan slogan untuk membubarkan ICE dan bahkan memanjat patung Picasso di Daley Plaza, Chicago.
Baca Juga: AS dan Tiongkok Capai Kesepakatan Awal: Perang Dagang Mereda, Ekspor Mineral Kritis Dilonggarkan
Beberapa pengunjuk rasa juga mengibarkan bendera Meksiko dan negara-negara lain sebagai bentuk solidaritas terhadap para migran yang menjadi target penggerebekan.
Texas Turut Kerahkan Pasukan. Di Texas, Gubernur Greg Abbott dari Partai Republik mengumumkan akan mengerahkan National Guard untuk menjaga ketertiban di tengah rencana aksi protes di berbagai kota di negara bagian tersebut. "Protes damai adalah legal. Merusak properti atau melukai orang lain adalah ilegal dan akan berujung penangkapan," tulis Abbott di platform X.
Sementara itu, sekitar 700 Marinir telah bersiap di Seal Beach, sekitar 50 km selatan Los Angeles, menunggu penempatan lebih lanjut. Keterlibatan militer ini mengundang kekhawatiran akan potensi pelanggaran terhadap Undang-Undang Posse Comitatus 1878, yang melarang penggunaan militer untuk penegakan hukum sipil.
Jaksa Agung California Rob Bonta menegaskan, “Melindungi personel bisa berarti menemani agen ICE masuk ke komunitas dan lingkungan warga. Itu sangat berisiko.”
Situasi Genting dan Masa Depan yang Tidak Pasti. Dengan meningkatnya ketegangan antara pemerintah pusat dan negara bagian, Amerika Serikat menghadapi krisis konstitusional yang serius. Penggunaan militer untuk menghadapi warga sipil kembali menjadi sorotan, terakhir kali terjadi pada kerusuhan Los Angeles tahun 1992 setelah putusan bebas bagi polisi yang memukuli Rodney King.