Deportasi di Tengah Kerja Sama. Di Ohio, protes terjadi usai Emerson Colindres (19), lulusan SMA asal Honduras yang telah tinggal di AS sejak usia delapan tahun, ditahan setelah menerima pesan teks dari ICE untuk datang ke kantor. Ia adalah peserta program “alternatif penahanan” yang memantau imigran melalui gelang kaki dan panggilan telepon.
Meski telah diperintahkan dideportasi setelah klaim suaka keluarganya ditolak, Colindres secara rutin hadir dalam check-in dan memiliki permohonan visa yang masih diproses. “Mereka ingin mendeportasinya, padahal dia bahkan tidak mengenal negara asalnya,” ujar ibunya, Ada Baquedano.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) membela keputusan tersebut, menyatakan bahwa terlalu banyak imigran dengan perintah deportasi akhir hanya ditempatkan dalam pengawasan tanpa penahanan.
Kritik dan Ketakutan di Masyarakat. Para pegiat imigrasi dan anggota Partai Demokrat menyebut langkah ICE sebagai pendekatan yang membabi buta dan menciptakan iklim ketakutan di komunitas. Gelatt menambahkan bahwa menangkap orang yang kooperatif dalam program pengawasan justru berisiko mahal dan tidak efisien.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson menegaskan kembali komitmen Presiden Trump. “Jika Anda berada di Amerika Serikat secara ilegal, Anda akan dideportasi. Ini adalah janji Presiden kepada rakyat Amerika, dan kami akan menepatinya,” ujarnya.
Dengan strategi baru ini, pemerintahan Trump menegaskan prioritasnya pada penegakan hukum yang keras, tetapi kritik terus berdatangan mengenai dampak sosial, hukum, dan moral dari kebijakan yang semakin luas dan tanpa pandang bulu.