internasional

Taktik Baru ICE Dikecam: Target Penangkapan Harian Tiga Kali Lipat, Warga Tak Berdokumen Jadi Sasaran Acak

Rabu, 11 Juni 2025 | 12:37 WIB
Seorang migran dan seorang pengamat hukum terbaring di lantai saat mereka ditahan oleh petugas imigrasi federal di pengadilan imigrasi AS di Manhattan, New York City, AS, pada 6 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

 

WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Upaya penegakan imigrasi oleh U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) menuai kritik tajam setelah lembaga tersebut meningkatkan target penangkapan harian dari 1.000 menjadi 3.000 orang per hari. Perintah ini datang langsung dari Gedung Putih sebagai bagian dari janji Presiden Donald Trump untuk mencapai rekor deportasi selama masa jabatannya. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (10/06/2025).

Baca Juga: Harga Emas Naik di Tengah Ketidakpastian Perdagangan AS-China, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Dalam beberapa pekan terakhir, operasi ICE menjadi sorotan publik setelah sejumlah penangkapan yang dinilai sewenang-wenang terjadi di berbagai lokasi umum, termasuk restoran terkenal di San Diego, toko peralatan rumah tangga seperti Home Depot, serta pengadilan dan lokasi kerja. Di Los Angeles, ketegangan meningkat saat ratusan warga turun ke jalan memprotes operasi yang dianggap memicu ketakutan di komunitas migran.

 

Penangkapan di Sekolah dan Pengadilan. Salah satu kasus yang memicu kemarahan publik adalah penangkapan seorang atlet voli SMA di Massachusetts yang ditahan usai razia lalu lintas. Ia diketahui dalam proses deportasi. Di pengadilan-pengadilan imigrasi, beberapa individu yang masuk ke AS secara sah juga ditangkap, meskipun tidak bersembunyi atau melakukan pelanggaran hukum berat.

Baca Juga: Indeks Saham India Diprediksi Menguat, Didukung Optimisme Perdagangan Global

“Sepertinya mereka hanya menangkap siapa pun yang terlihat seperti imigran tak berdokumen dan bisa dideportasi,” kata Julia Gelatt dari Migration Policy Institute, sebuah lembaga nonpartisan di bidang kebijakan imigrasi.

 

Pergeseran Fokus: Dari Pelanggar Berat ke Siapa Saja. Sumber internal menyebut bahwa perubahan strategi ini dipicu oleh tekanan dari penasihat senior Gedung Putih, Stephen Miller, arsitek utama kebijakan imigrasi Trump. Dalam pertemuan akhir Mei, Miller mengecam pimpinan ICE karena jumlah penangkapan dianggap tidak memadai dan mendesak agar petugas tak lagi fokus pada pelanggar kriminal berat, melainkan siapa saja yang bisa dideportasi, termasuk di toko-toko seperti 7-Eleven dan Home Depot.

 

“Pesan dari Gedung Putih sekarang adalah soal kuantitas, bukan kualitas pelanggaran,” ujar seorang sumber anonim dalam pertemuan tersebut.

Baca Juga: AS dan Tiongkok Capai Kesepakatan Awal: Perang Dagang Mereda, Ekspor Mineral Kritis Dilonggarkan

Namun, mantan pejabat ICE memperingatkan bahwa permintaan ini sulit diterapkan di kota-kota besar seperti Los Angeles, di mana pengadilan membatasi kewenangan ICE untuk melakukan penangkapan langsung di rumah, dan polisi lokal enggan bekerja sama dengan otoritas imigrasi federal.

Halaman:

Tags

Terkini