METROSELEBES COM-Harga emas menguat tipis pada Rabu pagi seiring kekhawatiran yang terus berlanjut terkait kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Ketidakpastian ini mendorong aksi beli aset aman (safe haven) dari para investor yang juga tengah menantikan rilis data inflasi utama dari AS. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (11/06/2025).
Baca Juga: Indeks Saham India Diprediksi Menguat, Didukung Optimisme Perdagangan Global
Harga emas di pasar spot tercatat naik 0,2% menjadi $3.328,89 per ons pada pukul 01:53 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga meningkat 0,2% ke level $3.349,80 per ons.
Kenaikan harga emas terjadi setelah pejabat AS dan China mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk menghidupkan kembali gencatan senjata dagang yang sempat goyah. Kesepakatan ini juga mencakup penyelesaian pembatasan ekspor mineral tanah jarang dan magnet oleh China. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, usai dua hari perundingan intensif di London.
Baca Juga: AS dan Tiongkok Capai Kesepakatan Awal: Perang Dagang Mereda, Ekspor Mineral Kritis Dilonggarkan
Lutnick menambahkan bahwa tim AS akan membawa kerangka kesepakatan tersebut kepada Presiden Donald Trump untuk mendapat persetujuan, sementara delegasi China akan meminta restu dari Presiden Xi Jinping.
“Meski negosiator dari kedua negara telah mencapai kesepakatan kerangka kerja, selama belum disetujui oleh Trump atau Xi, ketidakpastian masih menyelimuti. Ketidakpastian inilah yang menopang harga emas menjelang rilis data inflasi,” ujar Matt Simpson, analis senior dari City Index.
Ketegangan dagang antara kedua negara besar ini bermula sejak April, ketika mereka saling mengenakan tarif balasan yang memicu perang dagang. Namun, dalam pertemuan di Jenewa bulan lalu, kedua pihak sepakat untuk menurunkan tarif dari level tiga digit.
Di sisi lain, Bank Dunia pada hari Selasa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 menjadi 2,3%, turun 0,4 poin persentase dari proyeksi sebelumnya. Lembaga tersebut menyebut bahwa tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian global menjadi “hambatan signifikan” bagi hampir seluruh perekonomian dunia.