Tekanan Politik dan Ketidakpastian Global. Pasar global saat ini berada dalam kondisi tidak stabil, dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada surat utang negara, termasuk di AS, akibat kebijakan tarif dan ketidakpastian ekonomi di bawah Presiden Donald Trump. Di Jepang, tekanan terhadap obligasi jangka panjang juga diperparah oleh desakan politik untuk pemotongan pajak dan stimulus fiskal menjelang pemilu majelis tinggi pada Juli.
Kendati pemerintah tengah mempertimbangkan paket stimulus baru, para petinggi koalisi penguasa sepakat untuk tidak menerbitkan obligasi pembiayaan defisit tambahan.
Bank Sentral Jepang (BOJ), meskipun tak berencana mengubah kebijakan tapering obligasinya dalam waktu dekat, diperkirakan akan mempertimbangkan dampak gejolak pasar ini dalam rapat kebijakan bulan depan untuk rencana fiskal 2026 dan seterusnya.
Baca Juga: Korea Utara Kecam Proyek Golden Dome AS: Skenario Perang Nuklir di Luar Angkasa
Hanya Solusi Sementara. Katsutoshi Inadome, analis senior di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, mengatakan bahwa penerbitan obligasi super-jangka panjang bisa saja dikurangi paling cepat pada Juli mendatang. Hal ini diperkirakan dapat meredakan kekhawatiran pasar menjelang lelang obligasi 40 tahun yang dijadwalkan pada Rabu.
Namun ia mengingatkan bahwa langkah ini hanya memberi kelegaan sementara. “Ini bukan solusi jangka panjang terhadap tingginya utang Jepang. Setelah Kementerian Keuangan melakukan bagiannya, kini giliran politisi untuk mencegah peningkatan utang yang lebih besar,” ujarnya.
Langkah Jepang dalam mengendalikan penerbitan obligasi super-jangka panjang menjadi sinyal bahwa pemerintah bersiap mengambil tindakan preventif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan kepercayaan investor, tanpa menambah beban utang negara yang sudah mencapai level tertinggi.