METROSELEBES.COM-Pasar keuangan global menghadapi minggu yang menentukan, saat raksasa chip Nvidia menutup musim laporan keuangan AS di tengah meningkatnya tekanan dari pasar obligasi jangka panjang dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter global.
Baca Juga: Trump Isyaratkan Terobosan dalam Negosiasi Nuklir dengan Iran
Laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan rilis pada Rabu menjadi sorotan utama. Perusahaan yang berada di garis depan revolusi kecerdasan buatan ini merupakan bagian dari "Magnificent Seven", grup saham teknologi unggulan yang telah pulih tajam sejak April. Namun, setelah dua tahun mencetak rekor kenaikan harga saham, kinerja Nvidia mulai stagnan di tahun 2025.
Investor akan memantau apakah laporan kuartal pertama perusahaan ini mampu memperkuat reli di pasar saham, terutama dengan indeks S&P 500 yang kini mendekati rekor tertinggi setelah sempat nyaris masuk wilayah bearish bulan lalu.
Baca Juga: Macron Kunjungi Vietnam: Teken Kesepakatan Airbus dan Satelit, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Kekhawatiran baru muncul dari pasar obligasi pemerintah jangka panjang, yang biasanya stabil. Setelah Moody’s memangkas peringkat kredit AS, permintaan terhadap lelang obligasi 20 tahun senilai $16 miliar menunjukkan pelemahan. Di Jepang, hasil lelang obligasi bahkan menjadi yang terburuk sejak 2012, mendorong imbal hasil obligasi 30 tahun ke rekor tertinggi.
Dengan imbal hasil obligasi jangka panjang AS kembali menembus 5% dan Jepang bersiap menjual lebih banyak utang, para "bond vigilantes" — investor yang menuntut premi risiko lebih tinggi — mulai menunjukkan taringnya.
Baca Juga: BI Longgarkan Aturan, Perbankan Dapat Napas Baru Jelang Paruh Kedua 2025
Bank sentral di Asia Pasifik tidak tinggal diam. Bank Sentral Jepang tetap tenang di tengah tekanan global, menyatakan akan terus menaikkan suku bunga jika inflasi sesuai proyeksi. Lonjakan harga beras telah mendongkrak indeks harga konsumen Tokyo, yang akan dirilis pada 30 Mei dan menjadi indikator awal kondisi inflasi nasional.