Menariknya, Presiden Donald Trump, yang sedang mempersiapkan kunjungan ke Timur Tengah, memanfaatkan momentum tersebut. Tanpa melibatkan Israel—yang secara tradisional menjadi sekutu dekat dalam isu regional—Trump langsung memproklamirkan kemenangan diplomatiknya.
Baca Juga: Trump Tarik Diri dari Jalur Damai, AS-Ukraina Kunci Aliansi Ekonomi dan Militer
“Mereka berkata, 'Tolong jangan bom kami lagi. Kami tidak akan menyerang kapal-kapal Anda lagi',” kata Trump kepada media.
Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi khas Trump yang sering mengabaikan protokol diplomatik konvensional, namun berhasil menghasilkan hasil jangka pendek yang signifikan.
Baca Juga: Serangan Trump terhadap Industri Film Merupakan Tanda Penghinaan terhadap Orang Asing
Menurut dua sumber, Iran memainkan peran penting dalam mendorong Houthi untuk membuka jalur negosiasi. Teheran sendiri sedang terlibat dalam pembicaraan nuklir dengan AS, dengan harapan meredakan sanksi dan menghindari potensi serangan militer dari AS atau Israel.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga disebut mendukung gencatan senjata ini secara diam-diam. Mereka khawatir jika tekanan terhadap Houthi berlanjut, maka serangan akan kembali diarahkan ke wilayah mereka.
Baca Juga: CHINA & DUNIA KENA IMBAS: TRUMP TEMBAKKAN TARIF BARU UNTUK FILM
Meski gencatan senjata telah diumumkan, para analis memperingatkan bahwa kemampuan militer Houthi belum sepenuhnya dihancurkan. Mereka tetap mampu melancarkan serangan terhadap Israel, yang tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata ini.
“Bagi jaringan proksi Iran, AS dan Israel adalah satu paket. Mereka tidak memisahkan keduanya,” ujar seorang sumber yang memahami dinamika kawasan.