NEW DELHI,METROSELEBES.COM-13 Mei Pemerintah India tengah mempertimbangkan penerapan bea masuk terhadap sejumlah produk asal Amerika Serikat sebagai respons atas tarif impor tinggi yang diberlakukan Washington terhadap baja dan aluminium dari India. Hal ini terungkap dalam dokumen resmi yang diajukan India kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 12 Mei lalu.
Baca Juga: Harapan Baru Damai Rusia-Ukraina: Apakah Jalan Menuju Perdamaian Terbuka Kembali?
Langkah tersebut merupakan sinyal kuat dari New Delhi untuk melakukan suspensi terhadap konsesi perdagangan yang sebelumnya diberikan kepada Amerika Serikat. Dalam dokumen tersebut, India menyatakan rencana peningkatan tarif akan berlaku pada produk-produk tertentu yang berasal dari AS, meskipun belum dirinci jenis produknya.
Perselisihan ini berakar dari keputusan pemerintah AS pada Maret lalu yang kembali memberlakukan tarif sebesar 25% atas impor baja dan aluminium—kebijakan yang pertama kali diterapkan pada masa jabatan pertama Presiden Donald Trump tahun 2018. Sebagai negara produsen baja mentah terbesar kedua di dunia, India merasa dirugikan oleh langkah tersebut.
Baca Juga: Honda Tunda Proyek EV di Kanada, Laba Anjlok Akibat Tarif Trump
India mencatat bahwa kebijakan tarif AS telah berdampak pada ekspor produk India ke Amerika Serikat senilai sekitar 7,6 miliar dolar AS. Merespons hal ini, India menyiapkan tindakan balasan yang sah dalam kerangka WTO dengan cara mengenakan tarif tambahan terhadap barang-barang asal Amerika.
Selain itu, pemerintahan Trump sebelumnya juga mengancam akan menerapkan tarif balasan sebesar 26% terhadap produk asal India. Meski demikian, kedua negara saat ini masih berupaya mencapai kesepakatan dagang yang dapat memperkecil ketimpangan tarif antara keduanya—dengan India menyatakan kesediaannya untuk memangkas dua pertiga dari perbedaan tarif yang ada.
Baca Juga: Trump Incar Triliunan Dolar di Teluk, Abaikan Isu Gaza dan Iran
Di sisi lain, India sendiri dikenal sebagai negara dengan tarif impor yang tinggi. Presiden Trump bahkan pernah menyebut India sebagai “penyalahguna tarif” karena kebijakannya yang proteksionis. Tak hanya terhadap Amerika, India juga baru-baru ini memberlakukan tarif sementara sebesar 12% untuk mengendalikan lonjakan impor baja murah dari Tiongkok.
Baca Juga: Pengungsi Kulit Putih dari Afrika Selatan Disambut di AS, Tuai Kontroversi
Langkah India ini tidak hanya bertujuan melindungi industri dalam negeri, tetapi juga sebagai strategi diplomatik untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi ekspor baja India melalui perundingan dagang dengan negara mitra lainnya.