Hujan Deras Picu Longsor di China Selatan, 4 Tewas dan 17 Hilang – Militer Turun Tangan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 23 Mei 2025 | 19:20 WIB
Petugas pemadam kebakaran melakukan operasi penyelamatan setelah tanah longsor yang dipicu oleh hujan deras di desa Qingyang, Bijie, provinsi Guizhou, Tiongkok. Source FOTO: REUTERS
Petugas pemadam kebakaran melakukan operasi penyelamatan setelah tanah longsor yang dipicu oleh hujan deras di desa Qingyang, Bijie, provinsi Guizhou, Tiongkok. Source FOTO: REUTERS

BEIJING,METROSELEBES.COM– Bencana longsor yang dipicu oleh hujan lebat di provinsi Guizhou, China barat daya, menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan 17 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Kamis (22/05/2025).

Baca Juga: Kecelakaan Peluncuran Kapal Perang Korea Utara Picu Penyelidikan Besar-Besaran: Kim Jong Un Murka

Otoritas setempat telah mengerahkan lebih dari 400 personel darurat, termasuk petugas pemadam kebakaran dan anggota militer, untuk melakukan upaya penyelamatan di daerah terdampak.

 

Menurut laporan stasiun televisi nasional CCTV, dua korban meninggal berasal dari Kecamatan Changshi, sementara dua lainnya berasal dari Desa Qingyang yang berdekatan. Di desa tersebut, longsor menimpa delapan rumah tangga dan menjebak total 19 orang.

Baca Juga: Janji Tiga Juta Rumah, Cuma Omon-Omon? DPR Kritik Realisasi yang Baru 1,7 Persen

Pemerintah telah mengeluarkan peringatan risiko bencana geologi untuk wilayah sekitar yang juga rawan terkena dampak hujan ekstrem. Otoritas cuaca China meningkatkan respons darurat ke level ketiga—tingkatan tertinggi ketiga dalam sistem peringatan nasional—untuk provinsi Guizhou, Hunan, dan Jiangxi, menyusul prediksi hujan deras lanjutan.

 

Bencana ini menambah panjang daftar korban akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah selatan China dalam beberapa pekan terakhir. Di provinsi Guangdong dan wilayah Guangxi, hujan deras telah menewaskan tujuh orang dan menyebabkan sejumlah lainnya hilang.

Baca Juga: Polisi Hadiri Pemakaman Alumni Deradikalisasi di Poso, Warga Nyatakan Dukungan untuk Jaga Keamanan

Fenomena cuaca ekstrem ini dikaitkan dengan perubahan iklim yang makin nyata. Data meteorologi China menunjukkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun terpanas sejak pencatatan dimulai lebih dari enam dekade lalu—menandai tahun kedua berturut-turut di mana rekor suhu tertinggi terlampaui.

 

China, dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dinilai sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk gelombang panas berkepanjangan serta hujan lebat yang tidak dapat diprediksi. Pemerintah menyerukan kesiapsiagaan dan peningkatan sistem mitigasi bencana untuk menghadapi situasi iklim yang kianekstrem.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Rekomendasi

Terkini

X