Inti berita:
Warga Tamalanrea Jaya mempertanyakan pengelolaan limbah dapur SPPG yang dibangun di kawasan padat penduduk dan rawan banjir. Pengelola belum memberikan keterangan resmi.
METROSELEBES.com, MAKASSAR – Di tengah deretan rumah warga di Jalan Bung, Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea, Makasar, sebuah bangunan bercat biru mencuri perhatian. Bangunan yang disebut-sebut sebagai dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu kini masih dalam tahap penyelesaian, namun keberadaannya sudah memunculkan beragam tanggapan dari warga sekitar.
Sejumlah warga mengaku mengetahui bangunan tersebut akan difungsikan sebagai dapur SPPG. Aktivitas pembangunan yang hampir rampung membuat masyarakat mulai mempertanyakan dampak yang mungkin muncul ketika fasilitas itu mulai beroperasi.
“Iya, dapur SPPG, sedang finishing,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya kepada MetroSelebes.com, Selasa (24/6/2026).
Baca juga: Kejagung Buka Jalan, 17.600 Motor Listrik BGN Tetap Bisa Beroperasi Meski Kasus Korupsi Bergulir
Kekhawatiran terhadap Limbah
Meski hingga kini bangunan tersebut belum beroperasi, sebagian warga mulai menyuarakan kekhawatiran terkait pengelolaan limbah jika benar difungsikan sebagai dapur SPPG. Menurut mereka, lokasi yang berada di kawasan padat penduduk dan kerap terdampak genangan saat musim hujan memerlukan perhatian khusus agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan maupun mengganggu kenyamanan warga di kemudian hari.
“Kami khawatir soal limbahnya jika sudah beroperasi. Soalnya ini daerah padat penduduk dan rawan banjir,” kata seorang warga Bung Permai yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Untuk memastikan status bangunan tersebut, MetroSelebes.com berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak pemilik maupun pengelola. Namun saat tim redaksi mendatangi lokasi, pemilik belum berada di tempat. Sejumlah pekerja yang sebelumnya terlihat juga tidak ditemukan sehingga keterangan resmi belum dapat diperoleh.
Baca juga: Titik Dapur MBG Diduga Jadi Ladang Bisnis, Kejagung Ungkap Transaksi hingga Rp100 Juta per Lokasi
Di lokasi, redaksi menemukan dua ujung pipa yang terhubung ke saluran drainase lingkungan sekitar. Meski belum dapat dipastikan fungsi maupun sistem pengelolaan limbahnya, warga berharap pengelola melakukan sosialisasi dan membuka ruang dialog sebelum dapur mulai beroperasi, sehingga berbagai kekhawatiran yang muncul dapat dijawab secara transparan.