BYD juga menjalankan "company town" modern di markas besar Shenzhen: dengan apartemen subsidi perusahaan, sekolah internal, dan sistem transportasi internal. Pendiri dan ketua BYD, Wang Chuanfu, bahkan tinggal di kompleks tersebut, menjalani gaya hidup sederhana demi efisiensi perusahaan.
‘Fail Fast’, Sukses Lebih Cepat
Tak seperti pabrikan barat yang bergantung pada prototipe dan pengujian bertahun-tahun, produsen mobil Tiongkok cenderung menerapkan pendekatan “fail fast” ala startup Silicon Valley. Mereka mengandalkan simulasi digital dan AI, serta cepat mengganti model jika tidak diterima pasar.
“Jika semua orang hari ini berkata, ‘Kami benci mobil ini,’ Chery akan langsung mengubahnya,” kata Peter Matkin, kepala insinyur merek internasional Chery. "Nama modelnya mungkin tetap sama, tapi desainnya akan sepenuhnya berbeda – dan akan hadir dalam waktu kurang dari dua tahun."
Chery sendiri telah mengekspor lebih dari 1,1 juta kendaraan ke 100 negara pada 2023. Setengah dari total penjualannya berasal dari luar negeri. Keunggulannya: selain memproduksi mobil listrik, Chery tetap kuat di segmen bensin dan hybrid, yang masih dominan di banyak negara berkembang.
Baca Juga: BRICS Tunjukkan Kekuatan Baru di Rio: Serukan Reformasi Tata Dunia dan Kritik Proteksionisme AS
Perusahaan juga berambisi membangun setidaknya tiga pabrik di Eropa, termasuk satu di Spanyol melalui kerja sama dengan Ebro. “Chery adalah produsen volume besar,” kata Direktur Eropa Chery, Jochen Tueting. “Kami ingin tumbuh besar di Eropa.”
Global di Ambang Krisis
Antara 2020 hingga 2024, lima pabrikan asing terbesar di Tiongkok – VW, Toyota, Honda, GM, dan Nissan – mengalami penurunan penjualan dari 9,4 juta menjadi 6,4 juta unit. Sebaliknya, lima pabrikan Tiongkok teratas menggandakan penjualannya menjadi 9,5 juta unit.