internasional

China Perketat Pengawasan Magnet Tanah Jarang dengan Sistem Pelacakan Nasional Baru

Rabu, 4 Juni 2025 | 20:49 WIB
Bendera Tiongkok ditempatkan di sebelah unsur Gallium dan Germanium pada tabel periodik, dalam gambar ilustrasi yang diambil pada 6 Juli 2023. Source FOTO: REUTERS

BEIJING,METROSELEBES.COM-Pemerintah Tiongkok resmi memberlakukan sistem pelacakan nasional baru untuk sektor magnet tanah jarang (rare earth magnet) pekan lalu, di tengah pemberlakuan pembatasan ekspor yang mulai berdampak pada rantai pasok global. Kebijakan baru ini semakin menegaskan kontrol Beijing terhadap industri strategis tersebut, yang selama ini menjadi tumpuan utama berbagai industri global, termasuk otomotif dan semikonduktor. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (04/06/2025).

Baca Juga: India Gelar Sensus Nasional 2027: Pendataan Kasta Kembali Jadi Perdebatan

Menurut tiga sumber yang mengetahui langsung kebijakan tersebut, sistem pelacakan ini mewajibkan para produsen magnet tanah jarang untuk melaporkan data secara daring, termasuk volume perdagangan dan identitas para klien mereka. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya China untuk memperkuat pengawasan terhadap distribusi dan penggunaan produk strategis ini.

 

Pada April lalu, China telah menetapkan pembatasan ekspor terhadap tujuh unsur tanah jarang menengah hingga berat serta sejumlah jenis magnet yang mengandung unsur tersebut. Setiap eksportir kini diwajibkan untuk mengajukan izin sebelum bisa menyalurkan produknya ke luar negeri. Akibatnya, sejumlah perusahaan di berbagai negara menghadapi gangguan pasokan, dan beberapa produsen otomotif bahkan telah menghentikan sebagian lini produksinya karena kehabisan stok.

Baca Juga: Maskapai Dunia Kembali Hentikan Penerbangan ke Israel Setelah Serangan Rudal

Rencana untuk membangun sistem pelacakan ini sebenarnya sudah diumumkan sejak Juni tahun lalu, namun belum ada tindak lanjut yang jelas hingga akhirnya diberlakukan secara resmi pekan lalu. Langkah ini semakin memperkuat dugaan bahwa kontrol ekspor terhadap produk tanah jarang dan magnet terkait—di mana China menguasai hampir seluruh produksi global—bukanlah kebijakan sementara, melainkan bisa menjadi kebijakan jangka panjang.

 

"Analisis kami saat ini menunjukkan bahwa China kemungkinan besar akan terus mempertahankan mekanisme kontrol ekspor ini karena merupakan kartu as yang mereka miliki," kata Tim Zhang, pendiri lembaga riset Edge Research yang berbasis di Singapura.

Baca Juga: Maskapai Dunia Kembali Hentikan Penerbangan ke Israel Setelah Serangan Rudal

Sumber lain yang terlibat langsung dalam perumusan kebijakan ini mengungkapkan bahwa target jangka panjang Beijing adalah melacak seluruh rantai produksi tanah jarang, tidak hanya terbatas pada magnet. Pemerintah juga ingin memperkuat kendali atas industri ini secara menyeluruh, serta memberantas penyelundupan, penambangan ilegal, dan penghindaran pajak.

 

Sementara itu, di tengah pembicaraan perdagangan yang berlangsung di Jenewa bulan lalu, beberapa pihak di Amerika Serikat dan negara-negara lain sempat berharap bahwa kontrol ekspor ini akan dilonggarkan. Namun, pemberlakuan sistem pelacakan baru ini justru menjadi sinyal kuat bahwa China tidak berniat mengendurkan cengkeramannya dalam waktu dekat.

Baca Juga: Tarif Trump dan Masalah Logistik Tekan Kepercayaan Bisnis di Afrika Selatan

Halaman:

Tags

Terkini