Kemarahan yang Membara
Bagi warga Kashmir, rasa marah dan kecewa terhadap dua negara yang memperebutkan wilayah mereka semakin membesar. Furqan, seorang insinyur perangkat lunak, berkata, “India dan Pakistan bertempur, lalu berhenti. Mereka dapat apa yang mereka mau. Tapi kami? Kami yang menderita.”
Muneeb Mehraj (26), mahasiswa asal Srinagar yang kini kuliah di Punjab, menyampaikan perasaan serupa. “Kami ingin solusi yang nyata dan abadi, bukan sekadar jeda sesaat yang terus berulang.”
Baca Juga: India Gempur, Pakistan Ancam Balas! Krisis Dua Negara Nuklir Memanas
Ketidakpastian yang Tak Pernah Usai
Meski gencatan senjata masih berlaku, rasa aman belum benar-benar kembali. Sekolah dan kampus tetap tutup, listrik sempat dipadamkan, dan banyak warga enggan keluar rumah setelah gelap. Ketakutan bahwa serangan bisa terjadi kapan saja menghantui semua kalangan.
Pengamat politik, Noor Ahmad Baba, menilai masalah mendasar belum tersentuh. “Selama alienasi politik dan penghinaan terhadap rakyat Kashmir terus berlanjut, rasa curiga akan tetap ada,” katanya.
Baca Juga: Langit Memerah, Rudal India Hantam Kompleks di Pakistan, Warga Panik dan Masjid Jadi Sasaran
Janji-janji perdamaian, baik dari dalam negeri maupun internasional, dianggap terlalu jauh dari kenyataan lapangan. Harapan satu-satunya kini hanya tersisa pada satu hal — kesungguhan semua pihak untuk mendengar suara warga Kashmir, bukan menjadikan mereka korban dari konflik berkepanjangan.
“Berapa lama lagi ini akan terus terjadi?” tanya Mehraj. “Kami lelah. Yang kami butuhkan adalah perdamaian, bukan jeda yang sementara.”