“Saya sebutkan angka hari ini—80%—jadi kita lihat bagaimana hasilnya nanti,” ujar Trump di Gedung Oval.
Baca Juga: Serangan Trump terhadap Industri Film Merupakan Tanda Penghinaan terhadap Orang Asing
Dampak ke Pasar dan Konsumen
Penurunan tarif ke angka 80% diperkirakan hanya akan menurunkan total beban tarif impor dari sekitar 22% menjadi 18%, menurut analis Oxford Economics. Angka ini tetap jauh di atas rata-rata tarif 2-3% sebelum Trump kembali menjabat.
Investor pun menanggapi dengan hati-hati. Pasar saham AS bergerak lesu pekan ini, dan nilai tukar dolar melemah terhadap beberapa mata uang utama. Para ekonom khawatir kebijakan tarif tinggi akan terus mendorong kenaikan harga barang konsumsi seperti pakaian, elektronik, dan mainan, serta menekan daya beli masyarakat.
Baca Juga: TRUMP DAN PM CARNEY GELAR PERTEMUAN PENTING DI GEDUNG PUTIH, TEGANGAN DIPERKIRAKAN TINGGI
Sementara itu, China membalas kebijakan AS dengan membatasi ekspor elemen tanah jarang—komponen penting bagi industri teknologi dan pertahanan AS—dan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal AS hingga 125%, termasuk produk unggulan seperti kedelai dan gas alam cair.
Optimisme dari Swiss
Wakil Presiden Swiss Guy Parmelin, yang juga menjadi tuan rumah pertemuan, menyampaikan harapan bahwa diskusi kali ini bisa menjadi awal dari solusi. “Kedua pihak sudah mulai berbicara, dan itu saja sudah sebuah keberhasilan,” ujarnya. “Jika muncul peta jalan dan keputusan untuk melanjutkan dialog, maka ketegangan akan berkurang.”
Meski begitu, sejumlah pengamat tetap skeptis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan besar. “Saya tak melihat jalan keluar yang mudah bagi kedua pihak,” kata Ryan Majerus, mantan pejabat Departemen Perdagangan AS.