Logam Tanah Jarang: Pembatasan Ekspor China Lumpuhkan Industri Otomotif Global

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Kamis, 5 Juni 2025 | 15:48 WIB
Seorang buruh bekerja di lokasi tambang logam tanah jarang di Kabupaten Nancheng, Provinsi Jiangxi, pada 14 Maret 2012. Source FOTO: REUTERS
Seorang buruh bekerja di lokasi tambang logam tanah jarang di Kabupaten Nancheng, Provinsi Jiangxi, pada 14 Maret 2012. Source FOTO: REUTERS

CEO Autoliv, Mikael Bratt, menyatakan perusahaannya belum terdampak, tetapi telah membentuk satuan tugas khusus untuk mengantisipasi krisis ini. Di sisi lain, CEO Asosiasi Industri Listrik dan Digital Jerman (ZVEI), Wolfgang Weber, menyebutkan bahwa sebagian perusahaan hanya memiliki persediaan cukup untuk beberapa minggu ke depan.

 

Andreas Kroll, Direktur Noble Elements—importir logam tanah jarang untuk UKM dan startup—mengungkapkan bahwa tidak ada solusi jangka pendek kecuali melakukan kesepakatan langsung dengan China. “China menguasai hampir 99,8% produksi logam tanah jarang berat secara global. Negara lain hanya mampu memproduksi dalam skala laboratorium,” katanya.

Baca Juga: Setelah Terapkan Jam Malam, Gubernur Jabar Larang Guru Beri PR kepada Siswa

Langkah China ini dinilai sebagai bagian dari strategi untuk melawan kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Meskipun sebagian tarif telah diturunkan setelah gejolak pasar, hubungan dagang AS-China masih tegang. Trump menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai sosok yang “sangat keras dan sulit diajak bernegosiasi”, menandakan rapuhnya kesepakatan dagang yang ada.

 

Pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung dalam pekan ini, dengan isu pembatasan ekspor logam tanah jarang dipastikan menjadi agenda utama.

Baca Juga: Jelang Laga Kontra China, Kluivert Waspadai Gaya Bermain Taktikal Tim Lawan

Ketergantungan dunia terhadap pasokan logam tanah jarang dari China kini menjadi titik lemah yang nyata. Industri otomotif global menghadapi risiko serius jika diversifikasi pasokan tidak segera dilakukan. Langkah cepat, baik melalui diplomasi maupun inovasi teknologi, menjadi kunci untuk menghindari krisis pasokan berkepanjangan yang dapat melumpuhkan rantai produksi global.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X