Pengungsi Kulit Putih dari Afrika Selatan Disambut di AS, Tuai Kontroversi

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Selasa, 13 Mei 2025 | 14:34 WIB
Para demonstran membawa plakat yang mendukung sikap Presiden AS Donald Trump terhadap apa yang disebutnya sebagai hukum rasis, perampasan tanah, dan serangan pertanian, di luar Kedutaan Besar Amerika . Source FOTO: REUTERS
Para demonstran membawa plakat yang mendukung sikap Presiden AS Donald Trump terhadap apa yang disebutnya sebagai hukum rasis, perampasan tanah, dan serangan pertanian, di luar Kedutaan Besar Amerika . Source FOTO: REUTERS

Langkah Trump tersebut juga memicu kemarahan di dalam negeri. Gereja Episkopal Amerika Serikat mengumumkan akan menghentikan keterlibatan mereka dalam program pemukiman pengungsi federal sebagai bentuk protes atas kebijakan yang dinilai tidak adil itu.

 Baca Juga: Ant Group Lepas Saham Paytm Senilai Rp3,4 Triliun, Sinyal Mundurnya Investor Asing?

"Kami tidak bisa diam menyaksikan satu kelompok pengungsi menerima perlakuan istimewa, sementara jutaan lainnya terus menunggu di kamp-kamp pengungsian dalam kondisi membahayakan," tulis Uskup Agung Sean Rowe kepada para jemaatnya.

 

Senator Jeanne Shaheen, tokoh senior dari Partai Demokrat, mengecam langkah ini sebagai “keputusan yang membingungkan dan bermuatan politik.” Ia menilai bahwa kebijakan ini bukan hanya tidak berdasar, tetapi juga merupakan upaya untuk mengubah narasi sejarah.

 

Latar Belakang Ketimpangan

 Baca Juga: AS-China Sepakat Pangkas Tarif, Dunia Lega: Perang Dagang Mereda, Pemisahan Ekonomi Dibatalkan

Meskipun sistem apartheid telah berakhir sejak 1994, ketimpangan ekonomi dan kepemilikan lahan di Afrika Selatan masih sangat mencolok. Menurut jurnal Review of Political Economy, warga kulit putih Afrika Selatan masih menguasai sekitar 75% lahan pribadi dan memiliki kekayaan rata-rata 20 kali lipat dibandingkan warga kulit hitam.

 

Sementara pengangguran di kalangan warga kulit putih berada di bawah 10%, angka tersebut melonjak hingga lebih dari sepertiga di kalangan mayoritas kulit hitam.

 Baca Juga: Berikut Kronologi Ledakan Amunisi di Garut, Terdapat Perangkat Bahan Peledak yang Tetiba Meletus dari Dalam Lubang

Pemukiman dan Ancaman Diplomatik

 

Sebagian dari para pengungsi Afrikaner akan ditempatkan di negara bagian Demokrat seperti Minnesota, sementara lainnya menuju negara bagian Republik seperti Idaho dan Alabama. Seorang pengungsi bernama Charl Kleinhaus, 46 tahun, mengaku kepada Reuters bahwa ia dan keluarganya diancam dan propertinya coba direbut. Namun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Rekomendasi

Terkini

X