Kota Boleh Dipenuhi Gedung, tetapi Apakah Warganya Bahagia? Prof. Sukri Palutturi Bawa Gagasan Kota Sehat di EBHIC 2026

photo author
Ali Murtadha, Metro Selebes
- Sabtu, 12 September 2026 | 14:37 WIB
Prof. Sukri Palutturi menggagas kota sehat yang menempatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas. (Foto: Istimewa) (Ali Haydar)
Prof. Sukri Palutturi menggagas kota sehat yang menempatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas. (Foto: Istimewa) (Ali Haydar)

“Ruang terbuka hijau dan ruang publik harus dipandang sebagai bagian dari infrastruktur kesehatan,” kata Prof. Sukri seraya menjelaskan bahwa taman, jalur pejalan kaki, ruang bermain, kebun komunitas dan kawasan tepi air dapat mendorong aktivitas fisik, menurunkan stres, memperkuat interaksi sosial serta membantu kota menghadapi dampak perubahan iklim.

Ruang hijau dalam perspektif kesehatan perkotaan juga memperlihatkan bagaimana kebijakan lingkungan dapat menghasilkan manfaat ganda karena vegetasi membantu mengurangi panas perkotaan, menyediakan ruang aktivitas fisik dan menciptakan tempat perjumpaan sosial yang penting bagi kesehatan fisik maupun psikologis.

Dengan cara pandang tersebut, seorang perencana transportasi sebenarnya ikut menentukan kesehatan ketika merancang jalan, seorang arsitek ikut memengaruhi kesehatan ketika mendesain permukiman, dan pemerintah kota ikut menentukan kesehatan ketika memutuskan di mana taman, sekolah, pasar dan fasilitas publik ditempatkan.

Kota Sehat Tak Bisa Dibangun Sendirian

Namun, kota dengan jutaan manusia dan persoalan yang saling berkaitan tidak mungkin dibenahi hanya oleh satu dinas, satu profesi, satu universitas ataupun satu kepala daerah.

Prof. Sukri menawarkan pendekatan Pentahelix Plus Community dengan memadukan prinsip whole-of-government dan whole-of-society, sehingga pembangunan kesehatan menjadi pekerjaan bersama pemerintah, sektor kesehatan dan nonkesehatan, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dunia usaha, masyarakat sipil, media, komunitas serta tokoh masyarakat dan agama.

“Tidak ada satu institusi pun yang mampu menciptakan kota sehat sendirian, karena kolaborasi hari ini merupakan fondasi bagi kota yang lebih sehat, tangguh, adil, dan berkelanjutan pada masa depan,” tegasnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menggeser pertanyaan pembangunan dari “siapa yang bertanggung jawab atas kesehatan?” menjadi “bagaimana setiap sektor dapat ikut menghasilkan kesehatan?”, sebab keputusan mengenai transportasi, perumahan, pendidikan, lingkungan dan ekonomi pada akhirnya mempunyai konsekuensi terhadap tubuh dan kehidupan manusia.

Gagasan itu memiliki kedekatan dengan pendekatan Health in All Policies, yang melihat bahwa kebijakan di luar sektor kesehatan dapat membawa konsekuensi kesehatan sehingga pertimbangan mengenai kesehatan dan keadilan perlu hadir dalam proses pengambilan keputusan lintas sektor.

Dari Ruang Konferensi Menuju Laboratorium Kota

Prof. Sukri tidak berhenti pada tataran konsep karena ia juga memperkenalkan Urban Health and Healthy Cities Research Group, kelompok riset multidisiplin yang dipimpinnya untuk mempelajari persoalan kesehatan perkotaan sekaligus mengembangkan solusi berbasis bukti.

Kelompok tersebut mempertemukan perspektif kesehatan masyarakat, perencanaan perkotaan, kesehatan lingkungan, tata kelola dan ilmu sosial melalui penelitian, pendidikan, publikasi ilmiah, pemberdayaan masyarakat serta kolaborasi nasional dan internasional.

Bagi dunia akademik, pendekatan multidisiplin menjadi penting karena persoalan kota hampir tidak pernah berdiri sendiri, sebab kemacetan dapat berhubungan dengan polusi dan stres, buruknya perumahan dapat berkelindan dengan penyakit, sementara minimnya ruang publik dapat bersinggungan dengan aktivitas fisik, kesehatan mental dan kohesi sosial.

Pada titik itulah kota dapat dipahami sebagai sebuah laboratorium kesehatan raksasa, tempat keputusan politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan tata ruang secara bersama-sama menentukan kualitas hidup jutaan manusia.

Pada Akhirnya, Kota adalah tentang Manusia

Menjelang akhir pemaparannya, Prof. Sukri membawa pembicaraan kembali kepada manusia sebagai alasan utama mengapa kota dibangun dan pembangunan dilakukan.

“Setiap keputusan tentang perumahan, transportasi, ruang publik, pendidikan, lingkungan, tindakan iklim, dan pembangunan ekonomi pada dasarnya juga merupakan keputusan tentang kesehatan dan keadilan,” ujarnya.

Ia mengajak pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dunia usaha dan masyarakat bergerak melampaui diskusi menuju tindakan kolektif agar kota menjadi tempat manusia dari segala usia dan kemampuan dapat hidup aman, sehat, terhubung, berpartisipasi secara bermakna dan mengembangkan potensi terbaiknya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ali Murtadha

Rekomendasi

Terkini

X