MetroSelebes.com, SAMARINDA — Di tengah pembicaraan tentang rumah sakit, penyakit, teknologi kesehatan, dan masa depan pelayanan medis, Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M .Sc.PH., Ph.D. membawa peserta The 6th East Borneo Health International Conference (EBHIC) 2026, Rabu, 9 September 2026, melihat kesehatan dari sudut yang lebih luas: dari trotoar yang aman, taman yang hijau, udara yang bersih, transportasi yang manusiawi, hingga ruang sosial yang membuat warga merasa menjadi bagian dari sebuah kota.
Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin itu hadir sebagai narasumber nasional dalam konferensi yang diselenggarakan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur dengan membawakan materi bertajuk “Creating a Healthy City for Community Well-being.”
Di hadapan peserta, Prof. Sukri memulai gagasannya dari sebuah kenyataan sederhana bahwa kota bukan benda mati yang hanya tersusun dari beton, aspal, gedung, jalan dan jembatan, melainkan sebuah ekosistem kehidupan tempat manusia, lingkungan, institusi, pelayanan publik dan kesempatan sosial saling berhubungan.
“Kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki gedung tinggi dan infrastruktur modern, karena kemajuan yang sesungguhnya terlihat dari seberapa baik masyarakatnya dapat hidup, memperoleh pelayanan, merasa aman, membangun hubungan sosial, dan berpartisipasi dalam pembangunan,” ujar Prof. Sukri.
Bagi Prof. Sukri, ukuran keberhasilan pembangunan perkotaan karena itu tidak semestinya berhenti pada pertumbuhan ekonomi, investasi atau megahnya infrastruktur, tetapi harus menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar tentang apakah manusia yang tinggal di dalamnya benar-benar menjadi lebih sehat, aman, terhubung dan sejahtera.
Kesehatan Ternyata Tidak Hanya Lahir di Rumah Sakit
Prof. Sukri kemudian mengajak peserta keluar dari cara pandang lama yang menempatkan kesehatan seolah-olah hanya diproduksi oleh rumah sakit, puskesmas, klinik, dokter, perawat atau obat-obatan.
Ia menjelaskan bahwa kesehatan sesungguhnya dibentuk setiap hari di rumah tempat seseorang dilahirkan, sekolah tempat anak belajar, lingkungan tempat keluarga tinggal, jalan yang dilalui menuju pekerjaan, makanan yang tersedia, udara yang dihirup, hingga komunitas tempat seseorang berinteraksi dan menua.
Cara pandang tersebut sejalan dengan konsep social determinants of health, yakni pemahaman bahwa kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat manusia dilahirkan, tumbuh, bekerja, hidup dan menua mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan serta ketimpangan kesehatan.
Perumahan yang layak, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, transportasi, keamanan, kualitas lingkungan, akses terhadap pangan bergizi dan kekuatan hubungan sosial karena itu dapat sama pentingnya dengan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menentukan kualitas hidup masyarakat.
“Tenaga kesehatan dapat menganjurkan masyarakat untuk rutin berolahraga, tetapi anjuran itu akan sulit diterapkan apabila lingkungan tempat tinggal tidak memiliki jalur pejalan kaki yang aman, taman, atau ruang publik yang mudah diakses,” jelasnya.
Menurut Prof. Sukri, kebijakan publik yang baik seharusnya membuat pilihan hidup sehat menjadi pilihan yang paling mudah, aman dan terjangkau, bukan sekadar menyerahkan seluruh tanggung jawab kesehatan kepada perilaku individu.
Logikanya sederhana: seseorang sulit diminta berjalan kaki ketika trotoarnya tidak tersedia, anak sulit didorong bermain di luar rumah ketika ruang bermain tidak aman, dan masyarakat sulit memilih makanan sehat ketika akses terhadap pangan bergizi terbatas atau terlalu mahal.
Ketika Kota Tumbuh, Masalah Kesehatan Ikut Berubah
Perubahan wajah perkotaan juga membawa persoalan baru karena urbanisasi, kepadatan penduduk, penyakit tidak menular, gangguan kesehatan mental, isolasi sosial, polusi, perubahan iklim, bencana dan ketimpangan pelayanan semakin bertemu dalam ruang kehidupan yang sama.
Prof. Sukri mengingatkan bahwa beban tersebut tidak selalu terbagi secara adil karena masyarakat berpenghasilan rendah, kelompok rentan, lanjut usia, anak-anak dan warga dengan keterbatasan tertentu dapat mengalami risiko kesehatan yang lebih berat ketika lingkungan perkotaan tidak dirancang secara inklusif.
Di sinilah sebuah taman kota yang tampak sederhana memperoleh makna kesehatan masyarakat yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik wajah perkotaan.