Inti Berita:
• Pemerintah mendistribusikan 5.538.300 buku bermutu ke sekolah yang membutuhkan dukungan literasi.
• Sasaran utama distribusi sekolah yang masih berada di bawah kompetensi minimum literasi.
METROSELEBES.com, JAKARTA – Tumpukan buku yang tiba di sekolah bukan sekadar tambahan koleksi perpustakaan. Bagi pemerintah, jutaan bacaan yang mulai didistribusikan ke berbagai daerah menjadi bagian dari upaya mendekatkan anak-anak Indonesia dengan buku sekaligus membangun kebiasaan membaca sejak bangku sekolah.
Sebanyak 5.538.300 eksemplar buku bacaan bermutu dikirim ke 18.444 SD dan 6.165 SMP yang tersebar di 510 kabupaten/kota pada 38 provinsi. Distribusi tersebut diprioritaskan bagi sekolah yang berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2025 masih berada di bawah kompetensi minimum literasi dan belum memperoleh bantuan buku pada tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: UNM Genap 65 Tahun, DPRD Sulsel Soroti Peran Kampus Cetak SDM Unggul
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan penguatan literasi dan numerasi menjadi bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah, kata dia, terus mendorong peningkatan minat baca melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mitra yang terlibat dalam program penyediaan buku. “Kami berusaha dengan segala kemampuan agar minat baca anak dapat ditingkatkan,” ujar Abdul Mu’ti.
Jenis bacaan yang disalurkan juga disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Siswa SD mendapat buku bergambar, sementara pelajar SMP memperoleh komik dan novelet. Pemerintah berharap format bacaan yang lebih dekat dengan keseharian anak dapat membuat kegiatan membaca tidak terasa sebagai kewajiban semata, tetapi berkembang menjadi kebiasaan.
Baca juga: Update Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2: 236 Dievakuasi, 35 Orang Belum Ditemukan
Di sisi pemanfaatan, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebut setiap paket buku telah dilengkapi pedoman penggunaan. Menurutnya, panduan tersebut ditujukan untuk membantu guru, kepala sekolah, dan murid memaksimalkan buku yang telah diterima. “Diharapkan nanti akan mempermudah para guru, kepala sekolah, dan murid untuk memanfaatkan buku-buku tersebut,” katanya.
Upaya pemerataan akses bacaan itu juga mendapat apresiasi dari Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria. Ia menilai penguatan literasi perlu berjalan inklusif, termasuk dengan menyediakan bahan belajar dalam format yang dapat diakses anak berkebutuhan khusus, seperti buku berhuruf braille serta sumber belajar audio dan video. Hingga 2026, Kemendikdasmen mencatat lebih dari 42 juta eksemplar buku bacaan bermutu telah didistribusikan kepada anak-anak Indonesia.
Pemerintah kini menghadapi tantangan berikutnya: memastikan buku yang sudah sampai ke sekolah benar-benar dibaca dan dimanfaatkan. Kajian Pusat Standar Kebijakan Pendidikan (PSKP) pada 2025 menunjukkan sekolah penerima bantuan buku mengalami peningkatan capaian literasi yang lebih baik dibandingkan sekolah pembanding. Artinya, distribusi jutaan buku menjadi langkah awal; keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana sekolah, guru, orang tua, dan siswa menghidupkan budaya membaca setelah buku berada di tangan mereka. (*)
Artikel Terkait
Program SIAGA HIPERDIA KKN-PK Unhas Dorong Warga Tellu Boccoe Cegah Hipertensi dan Diabetes
MENTARI KKN PK 69 Unhas Ajak Remaja Tellu Boccoe Siapkan Masa Depan, Cegah Pernikahan Dini dan Stunting
Polairud Perkuat Pengamanan Laut Selayar, Pos Kapal Patroli Resmi Berdiri di Pulau Jinato
Update Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2: 236 Dievakuasi, 35 Orang Belum Ditemukan
UNM Genap 65 Tahun, DPRD Sulsel Soroti Peran Kampus Cetak SDM Unggul