WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Keputusan Elon Musk untuk terjun ke dunia politik dengan membentuk partai baru di Amerika Serikat menuai dampak besar di pasar keuangan. Salah satu yang terdampak langsung adalah penundaan peluncuran dana ETF bertema Tesla oleh perusahaan investasi Azoria Partners. Seperti dikutip dari Reuters pada Minggu (06/07/2025).
Baca Juga: BRICS Tunjukkan Kekuatan Baru di Rio: Serukan Reformasi Tata Dunia dan Kritik Proteksionisme AS
Azoria Partners, yang sebelumnya dijadwalkan meluncurkan Azoria Tesla Convexity ETF pada pekan depan, mengumumkan penundaan produk investasinya menyusul pernyataan mengejutkan dari CEO Tesla, Elon Musk. Dalam unggahan di platform media sosial X yang ia miliki, Musk menyatakan pembentukan partai politik baru bernama “The America Party”, yang menurutnya bertujuan untuk “mengembalikan kebebasan” kepada rakyat Amerika.
Langkah politik Musk ini langsung menuai respons dari CEO Azoria, James Fishback. Dalam serangkaian unggahan di X, Fishback menyampaikan kritik tajam terhadap partai baru tersebut dan menegaskan kembali dukungannya kepada Presiden AS saat ini, Donald Trump. Dalam puncaknya, Fishback mengumumkan bahwa ETF bertema Tesla akan ditunda hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai arah politik Musk.
> “Saya mendorong Dewan untuk segera bertemu dan meminta klarifikasi dari Elon terkait ambisi politiknya, serta menilai apakah hal itu sejalan dengan tanggung jawab penuhnya sebagai CEO Tesla,” tulis Fishback.
Baca Juga: China Balas Larangan Uni Eropa dengan Pembatasan Impor Alat Medis Bernilai Tinggi
Ia menambahkan bahwa pengumuman Musk memperlemah keyakinan para pemegang saham terhadap masa depan Tesla, terutama setelah sebelumnya Musk menyatakan mundur dari kepemimpinan Departemen Efisiensi Pemerintahan pada bulan Mei lalu.
Tesla belum memberikan komentar resmi atas pernyataan maupun keputusan penundaan ETF tersebut saat berita ini ditulis.
Selain ETF bertema Tesla, Azoria Partners juga mengelola produk Azoria 500 Meritocracy ETF, yang secara eksklusif berinvestasi pada 500 perusahaan top AS yang tidak menerapkan kebijakan perekrutan berbasis keragaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), sebagaimana tercantum di situs resminya.