JAKARTA, METROSELEBES.COM – Stok beras nasional Indonesia saat ini mencapai 4,2 juta ton—angka tertinggi sepanjang sejarah.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memastikan bahwa pasokan beras yang disimpan di gudang Bulog dalam kondisi aman, cukup untuk memenuhi kebutuhan 286 juta rakyat Indonesia.
Namun di balik kabar baik ini, ancaman kecurangan kualitas dan harga mulai terkuak.
Baca Juga: Uang Tunai Gantikan Beras: Bansos Rp200 Ribu/Bulan Jadi Andalan Nutrisi Rakyat
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPR RI, Rabu (16/7/2025), menyampaikan bahwa stok beras tidak hanya aman secara kuantitas, namun juga didukung dengan langkah percepatan penyaluran bantuan sosial (bansos) sebanyak 360 ribu ton dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1,3 juta ton.
Kedua skema tersebut bertujuan untuk menstabilkan harga di pasaran.
Namun, fakta mengejutkan ditemukan saat pengawasan pasar diperketat. Sebanyak 212 dari 268 sampel beras yang diperiksa tidak sesuai mutu dan dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Baca Juga: Skema Cerdas Kopdes Merah Putih: Tanpa APBN, Tetap Beri Untung dari Sembako
Hasil pemeriksaan dari 13 laboratorium menunjukkan bahwa 90% beras yang diuji tidak memenuhi standar. Potensi kerugian akibat praktik curang tersebut diperkirakan mencapai Rp99 triliun per tahun.
“Pangan adalah sektor vital. Jangan dipermainkan, apalagi ada subsidi pemerintah di dalamnya. Kita harus kawal bersama,” tegas Menteri Amran.
Pemerintah menegaskan tidak akan mentolerir manipulasi mutu dan harga beras. Satgas Pangan dan aparat penegak hukum telah dilibatkan untuk menindak tegas para pelaku kecurangan.
Baca Juga: DPR Usul Larangan Akun Ganda, Demi Jaga Ekosistem Digital Nasional