Pemerintah Indonesia selama ini menyoroti Patek sebagai contoh keberhasilan program deradikalisasi yang digagas untuk menanggulangi radikalisme dan terorisme di tanah air.
Dalam peluncuran tersebut, hadir pula Chusnul Chotimah, salah satu korban selamat dari tragedi bom Bali yang kini masih bergelut dengan luka bakar dan biaya pengobatan. Ia menyempatkan diri berbicara langsung kepada Patek di hadapan kerumunan.
Baca Juga: Zimbabwe Kembali Lakukan Pembantaian Gajah: 50 Ekor Akan Dikuliti Demi Atasi Kelebihan Populasi
“Saya dulu menyimpan dendam kepada kamu,” ujar Chusnul dengan suara bergetar. “Tapi saya memaafkanmu. Saya tahu kamu sudah berubah.”
Meski telah memaafkan, Chusnul berharap Patek benar-benar merealisasikan niatnya membantu para korban. “Jangan cuma minta maaf,” katanya tegas.
Sementara itu, Tumini, korban selamat lainnya yang berada di Denpasar, Bali, mengatakan bahwa dirinya masih kesulitan membiayai pengobatan. Ia mendesak agar bantuan pemerintah lebih diprioritaskan bagi para korban yang masih membutuhkan.
Baca Juga: Tragedi di Rafah: Sedikitnya 27 Warga Palestina Tewas Dekat Lokasi Bantuan, PBB Desak Investigasi
Kisah Umar Patek dan usaha kopinya kini menjadi sorotan nasional. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam, muncul secercah harapan bahwa rekonsiliasi dan pemulihan bisa berjalan berdampingan—asal dibarengi dengan niat dan tindakan nyata.