nasional

Mantan Terpidana Bom Bali 2002 Buka Usaha Kopi, Janji Sisihkan Penghasilan untuk Korban

Rabu, 4 Juni 2025 | 18:42 WIB
Umar Patek, mantan militan berusia 58 tahun yang membantu merakit bom seberat satu ton yang menewaskan 202 orang dalam pengeboman klub malam di Bali tahun 2002, membawa secangkir kopi di sebuah kafe di Surabaya, Jawa Timur. Source FOTO:REUTERS

Pemerintah Indonesia selama ini menyoroti Patek sebagai contoh keberhasilan program deradikalisasi yang digagas untuk menanggulangi radikalisme dan terorisme di tanah air.

 

Dalam peluncuran tersebut, hadir pula Chusnul Chotimah, salah satu korban selamat dari tragedi bom Bali yang kini masih bergelut dengan luka bakar dan biaya pengobatan. Ia menyempatkan diri berbicara langsung kepada Patek di hadapan kerumunan.

Baca Juga: Zimbabwe Kembali Lakukan Pembantaian Gajah: 50 Ekor Akan Dikuliti Demi Atasi Kelebihan Populasi

“Saya dulu menyimpan dendam kepada kamu,” ujar Chusnul dengan suara bergetar. “Tapi saya memaafkanmu. Saya tahu kamu sudah berubah.”

 

Meski telah memaafkan, Chusnul berharap Patek benar-benar merealisasikan niatnya membantu para korban. “Jangan cuma minta maaf,” katanya tegas.

 

Sementara itu, Tumini, korban selamat lainnya yang berada di Denpasar, Bali, mengatakan bahwa dirinya masih kesulitan membiayai pengobatan. Ia mendesak agar bantuan pemerintah lebih diprioritaskan bagi para korban yang masih membutuhkan.

Baca Juga: Tragedi di Rafah: Sedikitnya 27 Warga Palestina Tewas Dekat Lokasi Bantuan, PBB Desak Investigasi

Kisah Umar Patek dan usaha kopinya kini menjadi sorotan nasional. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam, muncul secercah harapan bahwa rekonsiliasi dan pemulihan bisa berjalan berdampingan—asal dibarengi dengan niat dan tindakan nyata.

 

Halaman:

Tags

Terkini

Prabowo Tegaskan Komitmen Rakyat dan Keamanan Nasional

Selasa, 2 September 2025 | 19:20 WIB