JAKARTA, METROSELEBES.COM – Wacana penggabungan dua raksasa teknologi, Grab asal Singapura dan GoTo dari Indonesia, terus menuai perhatian publik.
Pengamat ekonomi dan pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, turut angkat bicara dengan menekankan empat poin strategis yang perlu diperhatikan pemerintah terkait dampak merger ini.
Baca Juga: Aldy Maldini Tanggung Jawab Refund Uang Fans, Minta Maaf dan Libatkan Manajemen TBA
Grab dan GoTo selama ini dikenal sebagai platform layanan transportasi online, pengiriman barang, dan pembayaran digital. Namun, rumor merger keduanya memunculkan kekhawatiran soal dominasi asing dan potensi kerugian terhadap kepentingan nasional.
Dalam tayangan YouTube miliknya yang diunggah Kamis, 15 Mei 2025, Rhenald mengingatkan bahwa GoTo bukan sekadar perusahaan teknologi biasa, tetapi telah menyentuh jutaan masyarakat Indonesia. “GoTo ini menyangkut kepentingan banyak orang di Indonesia, karena marketnya lebih dari 200 juta orang, bahkan ada yang menyebut 270 juta,” ujarnya.
Baca Juga: Tanggapi Meme Ciuman Jokowi-Prabowo, Jokowi: Itu Sudah Kebablasan, Kebangetan!
Berikut empat poin penting yang disoroti Rhenald Kasali terkait isu merger Grab-GoTo:
1. Berdampak Langsung pada Lapangan Kerja.
Menurut Rhenald, ekosistem digital GoTo telah menjadi tempat bergantung bagi jutaan pekerja informal.
“Ada sekitar 3,1 juta driver ojol terdaftar dan 20,1 juta pelaku usaha UMKM yang bergantung pada platform ini,” ungkapnya.
2. Menyangkut Kepentingan Ekonomi Nasional.
Ia menekankan bahwa merger berpotensi memengaruhi jaring pengaman ekonomi nasional, terutama sektor informal yang sangat bergantung pada platform digital lokal.
3. Berkaitan dengan Kedaulatan Data.
Merger dengan perusahaan asing seperti Grab berpotensi menyeret isu sensitif terkait pengelolaan data pengguna Indonesia. Hal ini perlu jadi perhatian serius pemerintah dalam menjaga kedaulatan data digital.
4. Soal Kebanggaan dan Kepemilikan Nasional.
Rhenald menyayangkan jika perusahaan sebesar GoTo sepenuhnya dikendalikan entitas asing. “Ini menyangkut kebanggaan nasional,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan absennya peran negara dalam isu strategis semacam ini.
“Bukankah dalam setiap hal yang menyangkut keempat hal strategis itu, negara biasanya turun tangan?” ujarnya menutup pernyataan.
Pernyataan senada sebelumnya juga disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Immanuel Ebenezer.
Ia menilai merger Grab-GoTo dapat mempercepat aliran modal keluar negeri dan mengancam posisi Indonesia dalam ekonomi digital. ***
Artikel Terkait
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid Jamuan Delegasi Kedutaan Besar Swiss Bahas Kerja Sama Penanggulangan Bencana
Mega Corpora Minta Dua Kursi Direktur di Bank Sulteng, Guru Besar Untad Soroti Skema Kelompok Usaha Bank
Megawati Sentil Isu Ijazah Jokowi: Kalau Asli, Tunjukkan Saja ke Publik
Strategi Tripartit DPD RI Bongkar Potensi Sengketa Wilayah Lewat RUU Sulawesi-Gorontalo
Gubernur Sulteng Anwar Hafid Tegaskan Komitmen Kejar Potensi PAD Hingga Rp4 Triliun Jelang 2030
Gerbang Sertifikasi Terbuka Tiga Hari: Siap-Siap PPG Daljab Mapel Umum 2025!
Naik Kelas Karena Bansos? Ini Strategi Mengejutkan Pemerintah
Tanggapi Meme Ciuman Jokowi-Prabowo, Jokowi: Itu Sudah Kebablasan, Kebangetan!
Aldy Maldini Akui Gali Lubang Tutup Lubang, Minta Maaf Usai Diduga Tipu Penggemar
Aldy Maldini Tanggung Jawab Refund Uang Fans, Minta Maaf dan Libatkan Manajemen TBA