Ketergantungan manusia pada kesibukan dan harta bendanya sangat besar dan dominan di zaman fitnah, hal yang sulit bagi tiap insan berlepas dan menghilangkan ketergantungannya itu, sehingga antara keimanan dan ketenangan selalu berbanding terbalik dengan ketergantungan pada kesibukan pada kejayaannya di dunia, maka sungguh menjadi hal istimewa bagi keimanan seseorang bila saja memilih menyelamatkan keimanannya dan meninggalkan ketergantungannya kepada keduniaan demi ketenangan hidup dan pahala akherat, inilah yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw dengan sabdanya;
((يُوشِكُ أنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ المُسْلِمِ غَنَمٌ يَتَّبعُ بِهَا شَعَفَ الجِبَالِ، وَمَواقعَ الْقَطْر يَفِرُّ بِدينِهِ مِنَ الفِتَنِ)). رواه البخاري.
Hampir hampir yang tersisa dari harta andalan seorang muslim hanyalah seekor kambing gembala di suatu lembah atau di tanah tanah subur, ia lari ke tempat itu karena menyelamatkan agamanya.
Dalam pandangan Al-Nawawi sebagaimana dikutip dalam Riyadhussholhin yaitu jalan satu satunya bagi seorang mukmin di akhir zaman yang dapat diridhohi Allah Swt dalam rangka selamatkan keimanannya adalah berjuang mati matian secara frontal melawan kezaliman, bila tak mampu adalah memisahlan diri, ber-uzlah beribadah dan hidup apa adanya hingga ajal menjemput dalam keadaan husnul khatimah, dan ia terhindar dari fitnah fitnah kebohongan akhir zaman, nabi saw mengisyaratkan hal ini dengan sabdanya:
وعنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنَّه قَالَ: ((مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لهم رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ في سَبيلِ الله، يَطيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزعَةً، طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِي القَتْلَ، أَوْ المَوْتَ مَظَانَّه، أَوْ رَجُلٌ فِي غُنَيمَةٍ في رَأسِ شَعَفَةٍ مِنْ هذِهِ الشَّعَفِ، أَوْ بَطنِ وَادٍ مِنْ هذِهِ الأَوْدِيَةِ، يُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَيُؤتِي الزَّكَاةَ، وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يأتِيَهُ اليَقِينُ، لَيْسَ مِنَ النَّاسِ إلا فِي خَيْرٍ)). رواه مسلم
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau bersabda, “Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia adalah seorang pria yang memegang tali kekang kudanya (berjihad) di jalan Allah, ia terbang di atas punggungnya, setiap kali ia mendengar suara atau gemuruh perang, ia terbang di atas punggungnya ketika mendengar panggilan jihad, ia terbang di atas punggungnya karena ingin berperang atau mencari kematian di peperangan; Atau seseorang yang menggembala kambing di puncak gunung yang tinggi, atau di salah satu lembah dari lembah-lembah ini, ia juga menegakkan salat, menunaikan zakat, beribadah kepada Tuhannya hingga kematian menjemputnya, dan tidaklah (ia bersama) manusia melainkan dalam kebaikan.”
Hadis sahih – Diriwayatkan oleh Muslim
Baca Juga: Jadikan Orang Saleh Sebagai Panutan
Tanggung jawab ke-ummatan diakhir zaman yang serba dekadensi dalam nilai dan tatanan, sudah bukan lagi tanggung jawab setiap individu yang berada di lokasi fitnah yang tak bisa dirubah itu, tetapi tanggung jawab itu telah berada dipundak para pengentas yang ditugaskan Allah swt khusus menangani urusan fitnah besar yaitu dengan munculnya imam al-Mahdi atau nabi Isa as setelah turunnya. Sedang umat ini hendaknya selamatkan keimanannya dengan memisahkan diri tidak berbaur dengan orang orang zolim pada diri dan orang lain. wallahu A’lam.
Demikian artikel ini, semoga bisa menjadi pedoman hidup di zaman fitnah. (***)