Di rentang usianya yang semakin tua, 73 tahun, Omar Mukhtar tertangkap.
Kemudian petinggi militer Italia yang dikenal berhati bengis, Jenderal Graziani, menghampirinya di ruang interogasi.
“Tuan Omar, apa Anda tidak tahu siapa yang Anda lawan? Kami ini punya pasukan yang terlatih, alat tempur yang modern dan canggih, dan logistik yang melimpah ruah. Kami pasti menang melawan kalian. Lalu mengapa kalian terus melakukan perlawanan?”
Baca Juga: Bisa Bikin Kaya Mendadak, Ternyata Karna Ini Harga Muntahan Paus Bisa Capai Miliaran
Dengan penuh wibawa, Omar Mukhtar menjawab kesombongan Jenderal Graziani, “Ya, kami tahu itu semua. Tetapi yang penting bagi kami adalah melakukan perlawanan, ya perlawanan!”
Omar Mukhtar kemudian dihadapkan ke tiang gantungan. Tangannya terborgol, tetapi kepalanya tegak.
Pandangan matanya tak menunjukan rasa takut sedikit pun, bahkan menghujam ke depan.
Kepada Jenderal Graziani, mujahid berusia 73 tahun itu mengatakan, “namaku akan jauh lebih panjang dari umur para algojomu!”
Setelah itu ia syahid di tiang gantungan. Hidup adalah perjuangan.
Baca Juga: Turnamen Futsal Pelajar AFK Palopo 2023 Kick Off Maret, Pesertanya Luwu Raya dan Toraja
Omar Mukhtar adalah cermin dari sikap seorang pejuang yang tidak mau tunduk pada penindasan dan kezaliman. Ia bisa saja memilih sikap tak peduli, toh untuk apa melakukan perlawanan di usia senja?
Ia bisa saja memilih sikap pesimis, melihat kekuatan musuh yang begitu besar.
Tetapi sikap itu bukan pilihan seorang pejuang. Karena sikap pengecut itu bukan saja mereka yang lari tunggang langgang dari medan pertempuran, tetapi mereka yang memiki mental penakut sebelum turun ke gelanggang.
Terkadang bukan karena musuh itu lebih kuat dari kita, lalu kita dapat ditaklukan, tetapi karena mental kita yang lemah dan pesimis dalam berjuang.
Baca Juga: Terungkap! Oknum Polisi Berinisial G Bekingi Pelaku Narkoba di Toraja
Artikel Terkait
Senang Melakukan Sesuatu, Ini Hukum Hobi dalam Islam
Ancaman Meninggalkan Salat Jumat dan Hal yang Harus Disiapkan
Mengenal Sosok Andi Hasan Opu To Hatta yang Namanya Kini Diabadikan Sebagai Nama Stadion
Kenali Sosok Antropolog Gene Ammarel dan Karyanya Untuk Suku Bugis
Daftar Gua Misterius di Indonesia: Berani Telusuri?