Inti berita:
• Sekitar 600 santri, mahasiswa, dan masyarakat umum mengikuti Arbain Walk 2026 dari Monas menuju Bundaran HI dan kembali ke Monas dengan membawa pesan reflektif tentang perjuangan, keadilan, kemanusiaan, dan semangat kemerdekaan Indonesia.
METROSELEBES.com, JAKARTA – Pagi di jantung Jakarta pada Ahad, 2 Agustus 2026, terasa berbeda ketika ratusan orang berjalan dalam satu irama dari kawasan Monumen Nasional (Monas). Sekitar 600 santri, mahasiswa, dan masyarakat umum menyatukan langkah dalam Arbain Walk 2026, sebuah pawai reflektif bertema “Arah Bangsa Indonesia: Berjalan Bersama Semangat Luhur Kemerdekaan.”
Dari Monas, rombongan bergerak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) memanfaatkan jalur Car Free Day (CFD), kemudian kembali ke titik awal. Bukan sekadar aktivitas jalan kaki, peserta membawa spanduk dan pesan moral mengenai perdamaian, keadilan, kemanusiaan, serta kecintaan terhadap Tanah Air. Panitia menyebut kegiatan tersebut telah dikoordinasikan dengan pihak terkait, termasuk Dinas Perhubungan, Polda Metro Jaya, dan Satintelkam Polres Metro Jakarta Pusat, agar pelaksanaan berjalan tertib.
Baca juga: Beda Versi Polisi dan Keluarga, Rieke Diah Pitaloka Desak Kematian Winda Lorenza Diusut Tuntas
Di tengah keramaian CFD, barisan peserta dijaga agar tetap teratur sehingga kegiatan tidak menimbulkan gangguan berarti terhadap ketertiban umum. Cinta Kasih Fatimah Foundation sebagai penggagas kegiatan menempatkan Arbain Walk sebagai ruang untuk menghidupkan kembali nilai perjuangan Sayyidina Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa Karbala yang selama ini dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Semangat Membela Kebenaran
“Nilai perjuangan Sayyidina Husain tidak terbatas oleh sekat agama, kebangsaan, tempat, maupun zaman. Keberanian beliau dalam menolak ketidakadilan adalah inspirasi universal yang sangat relevan dengan nilai-nilai kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujar salah satu pelaksana Arbain Walk 2026. Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama kegiatan, yakni menempatkan keberanian membela kebenaran dan melawan ketidakadilan sebagai nilai yang dapat dibaca dalam konteks kehidupan berbangsa.
Namun, panitia tidak mengemas kegiatan tersebut sebagai aksi massa dengan tuntutan politik tertentu. Suasana sepanjang perjalanan justru diarahkan pada refleksi, silaturahmi, dan kebersamaan. Peserta berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari kalangan pesantren, mahasiswa, hingga warga umum, dengan pesan yang dibawa berfokus pada perdamaian dan persatuan.
Setelah menyusuri rute Monas–Bundaran HI–Monas, seluruh peserta kembali berkumpul di kawasan Monas. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kedamaian, keadilan, dan kemajuan. Bagi panitia, momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada sejarah perjuangan masa lalu, tetapi perlu dijaga melalui sikap dan keberanian menghadapi ketidakadilan.
Arbain Walk 2026 akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar jejak ratusan pasang kaki di jalan protokol Jakarta. Dari sebuah pawai yang berlangsung di tengah CFD, peserta membawa pesan bahwa semangat kemerdekaan dapat dirawat melalui kebersamaan, kemanusiaan, dan keberanian memperjuangkan nilai keadilan. Di tengah perjalanan bangsa yang terus berubah, langkah bersama itu menjadi simbol bahwa arah Indonesia semestinya tetap berpijak pada nilai luhur yang menyatukan masyarakat. (*)
Artikel Terkait
Berawal dari Pembukaan Ruang untuk Murid, Yayasan Sekolah di Jaksel Justru Temukan 995 Senjata Api hingga VCD Porno
Bocoran Reshuffle Agustus Makin Kuat, Norman Joesoef Dikabarkan Masuk Istana untuk Isi Kursi Wamenhan
Maia Estianty Soroti Kasus Viral Pasien BPJS Terlantar 8 Jam, Ingatkan Nakes: Bukankah Sudah Mendedikasikan Hidup untuk Menolong?
Terduga Bandar Sabu Kabur, Warga Geruduk Polsek Liukang Kalmas: Dugaan ‘Main Mata’ Diselidiki Propam
Beda Versi Polisi dan Keluarga, Rieke Diah Pitaloka Desak Kematian Winda Lorenza Diusut Tuntas