Inti berita:
• WHO mengingatkan ancaman penyebaran Ebola Bundibyo di Afrika Timur yang telah menewaskan ratusan orang.
• Meski wabah meluas, WHO menolak penutupan perbatasan dan mendorong penguatan skrining kesehatan, sementara Indonesia meningkatkan pengawasan di pintu masuk internasional.
METROSELEBES.com, GENEVA – Di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda dan akses kesehatan yang terbatas, ancaman baru kembali menghantui sejumlah wilayah di Afrika Timur. Virus Ebola spesies Bundibugyo dilaporkan menyebar semakin luas dari Republik Demokratik Kongo (DRC) ke negara tetangga, Uganda, memicu kewaspadaan internasional terhadap potensi perluasan wabah lintas negara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memperbarui status kedaruratan kesehatan global menyusul lonjakan kasus yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengingatkan bahwa laju penyebaran virus kini bergerak lebih cepat dibandingkan bantuan kemanusiaan yang mampu menjangkau wilayah terdampak.
Baca juga: Bang Philip Pimpin Aksi Emak-emak di Makassar, Minta Program MBG Tak Dihentikan
“Rantai penularan bergerak lebih cepat daripada bantuan yang tiba di lapangan,” kata Tedros dalam pernyataan resminya. WHO menilai situasi semakin kompleks karena keterbatasan fasilitas kesehatan, kondisi keamanan yang tidak stabil, serta medan geografis yang sulit dijangkau di sejumlah kawasan pedalaman.
Data terbaru dari Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) menunjukkan jumlah kasus terkonfirmasi di Provinsi Ituri, DRC, telah mencapai 894 kasus. Dalam satu bulan terakhir, sedikitnya 200 orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara di Uganda, otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi 19 kasus penularan sekunder dengan dua korban jiwa di wilayah perbatasan.
Kelompok anak-anak dan tenaga kesehatan menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Tingginya kontak fisik dalam lingkungan keluarga meningkatkan risiko penularan, sementara keterbatasan alat pelindung diri membuat sejumlah petugas medis ikut terinfeksi saat menangani pasien di fasilitas isolasi darurat.
Sebagai langkah penanganan, WHO mempercepat uji klinis dua kandidat terapi antivirus berbasis antibodi monoklonal yang diharapkan dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Upaya tersebut dilakukan karena hingga kini belum tersedia vaksin komersial yang secara khusus mendapatkan lisensi untuk menangani Ebola galur Bundibugyo.
Baca juga: Aksi Heroik Emak-emak Bongkar Dugaan Lapak Sabu di Labura, Video Viral Bikin Polisi Bergerak
Meski ancaman wabah terus meningkat, WHO menegaskan bahwa penutupan perbatasan dan larangan perjalanan internasional bukanlah solusi yang tepat. Organisasi itu justru mendorong setiap negara memperkuat sistem skrining kesehatan, deteksi dini, dan pengawasan perjalanan resmi. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan bersama Badan Karantina Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan terhadap pelaku perjalanan internasional sebagai langkah antisipasi agar virus tidak masuk ke dalam negeri. (*)
(Fir/Ade)
Artikel Terkait
Kejagung Buka Jalan, 17.600 Motor Listrik BGN Tetap Bisa Beroperasi Meski Kasus Korupsi Bergulir
Diduga Dapur SPPG Muncul di Tengah Permukiman Tamalanrea, Warga Minta Kejelasan Soal Pengelolaan Limbah
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH Usai Pengakuan Terima Rp20 Juta, Kampus Buka Investigasi Internal
Aksi Heroik Emak-emak Bongkar Dugaan Lapak Sabu di Labura, Video Viral Bikin Polisi Bergerak
Bang Philip Pimpin Aksi Emak-emak di Makassar, Minta Program MBG Tak Dihentikan