Inti berita:
• Maia Estianty menyampaikan pesan kepada tenaga kesehatan agar tetap mengedepankan empati.
• Ia juga turut berkomentar atas viralnya kasus pasien BPJS Yurizal Tri Chaerawan yang diduga terlantar selama delapan jam.
METROSELEBES.com, JAKARTA -- Musisi sekaligus selebritas Tanah Air, Maia Estianty, turut menanggapi kasus viral yang menimpa pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, yang disebut harus menunggu ruang rawat inap hingga delapan jam di sebuah rumah sakit. Melalui akun media sosial pribadinya, Maia menyampaikan pesan kepada para tenaga kesehatan (nakes) agar tetap mengedepankan empati dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Dalam unggahannya, Maia mengakui memahami beban kerja para tenaga kesehatan yang harus menangani banyak pasien setiap hari. Namun, ia mengingatkan bahwa profesi tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk pengabdian untuk menolong orang yang sedang sakit. "Kami tahu Anda lelah karena pasien banyak, tapi bukankah kalian sudah mendedikasikan hidup Anda untuk menolong orang sakit?" tulis Maia.
Maia juga mengungkapkan bahwa dirinya rutin membayar iuran BPJS Kesehatan, baik untuk dirinya maupun seluruh karyawannya. Meski bersyukur belum pernah memanfaatkan layanan tersebut karena selalu diberi kesehatan, ia mengaku kerap merasa prihatin melihat panjangnya antrean pasien BPJS di berbagai rumah sakit.
"Semangat para pemakai BPJS. Juga buat para nakes, kami tahu Anda lelah karena pasien yang banyak, tapi bukankah kalian memang sudah mendedikasikan hidup untuk menolong yang sakit? Semangat para nakes, perjuangan kalian tentunya akan dibalas oleh Allah. Tapi jangan berkata-kata buruk ke pasien ya," lanjut Maia dalam unggahannya yang kemudian ramai dibagikan warganet.
Kasus ini bermula dari unggahan Yurizal Tri Chaerawan di platform Threads yang menceritakan pengalamannya menunggu ruang rawat inap selama sekitar delapan jam. Unggahan tersebut kemudian viral dan memicu sorotan publik terhadap pelayanan rumah sakit serta sistem layanan kesehatan bagi peserta BPJS.
Kontroversi semakin meluas setelah sejumlah oknum tenaga kesehatan diduga memberikan komentar yang dinilai tidak berempati terhadap keluhan Yurizal di media sosial. Situasi kian menjadi perhatian publik setelah Yurizal dilaporkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026, sehingga memicu berbagai reaksi dan kritik dari masyarakat.
Seiring bergulirnya polemik tersebut, Kementerian Kesehatan disebut telah mengecam tindakan oknum tenaga kesehatan yang diduga melanggar kode etik profesi. Hingga kini, desakan dari masyarakat agar rumah sakit dan organisasi profesi memberikan penanganan serta sanksi sesuai ketentuan terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran masih terus bermunculan di media sosial. (*)
Artikel Terkait
PHK 1.900 Karyawan PT GNI Dimulai Bertahap, Efisiensi Perusahaan Picu Kekhawatiran Nasib Ribuan Pekerja
Usai Ramai Dipersoalkan, Dokter Tamara Jasmine Sampaikan Permintaan Maaf dan Bantah Komentarnya Ditujukan kepada Almarhum Yurizal
Jaringan Senpi Ilegal dari Filipina Digagalkan di Halmahera Utara, Diduga Hendak Dipasok ke Papua
Berawal dari Pembukaan Ruang untuk Murid, Yayasan Sekolah di Jaksel Justru Temukan 995 Senjata Api hingga VCD Porno
Bocoran Reshuffle Agustus Makin Kuat, Norman Joesoef Dikabarkan Masuk Istana untuk Isi Kursi Wamenhan