internasional

Perang di Luar Angkasa: Ketegangan Taiwan Memicu Era Baru Pertempuran Antar Satelit

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:50 WIB
FOTO ARSIP: Roket SpaceX Falcon 9 yang membawa muatan satelit Starlink v2-mini meluncur dari Kompleks Peluncuran Antariksa 40 di Stasiun Angkatan Luar Angkasa AS di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Source FOTO: REUTERS

Pekan lalu, media resmi China mengumumkan peluncuran konstelasi satelit tiga unit di orbit “cis-lunar”, wilayah antara Bumi dan Bulan, yang memberikan keunggulan pengawasan terhadap satelit lain di orbit lebih rendah.

 

Persimpangan Musk, Starlink, dan Trump. Keterlibatan sektor swasta, terutama SpaceX milik Elon Musk, turut memperumit dinamika ini. Hubungan Musk dengan mantan Presiden Donald Trump yang memanas, serta ancaman Musk untuk menarik kapsul Dragon dari program luar angkasa berawak AS, menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan kontrak jangka panjang.

 

Ketergantungan militer AS terhadap layanan peluncuran SpaceX dan jaringan komunikasi Starlink menambah elemen risiko. Sejak Musk menolak permintaan Ukraina untuk mengaktifkan Starlink di wilayah pendudukan Rusia, banyak negara mulai mencari alternatif untuk komunikasi sensitif, termasuk sistem orbit rendah lain seperti OneWeb yang didukung Inggris dan Prancis.

Baca Juga: KPK Dalami Dugaan Korupsi Rp1,2 Triliun Dana Operasional Gubernur Papua, WNA Singapura Diperiksa Terkait Pembelian Private Jet

Kesiapan Menuju 2027m Komandan SPACECOM, Jenderal Stephen Whiting, mengakui bahwa penilaian pemerintah AS terhadap potensi invasi Taiwan telah memicu “urgensi” operasional. Meskipun belum ada bukti keputusan final dari China, semua cabang militer AS kini diarahkan untuk siap tempur pada 2027.

 

“Tidak seperti komando tempur lain yang berfokus pada wilayah geografis, tanggung jawab kami dimulai dari 100 kilometer di atas permukaan bumi, dan meluas hingga ke tak terhingga,” kata Whiting dalam sebuah konferensi bulan lalu. “Kami merancang agar siap melaksanakan operasi luar angkasa jika konflik benar-benar terjadi.”

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Bangun Giant Sea Wall Lindungi Pantai Utara Jawa

SPACECOM kini juga memperkuat kolaborasi dengan NATO dan negara-negara sekutu seperti Inggris dan Australia melalui sel “Operasi Komersial Bersama” yang bertugas memberi peringatan kepada operator satelit sipil atas potensi ancaman.

 

Sampai saat ini, belum pernah ada perang yang benar-benar terjadi di luar angkasa. Namun dengan semakin banyak negara dan aktor swasta terlibat, serta teknologi yang berkembang pesat, ancaman konflik antariksa semakin nyata.

Baca Juga: Pemkot Palu Dorong Penguatan Budaya Data Lewat FGD Metadata Statistik Sektoral

“Tak seorang pun menginginkan perang dimulai atau meluas ke luar angkasa,” ujar Whiting. “Namun kita harus menyiapkan strategi terbaik untuk menghadapi kemungkinan itu.”

Halaman:

Tags

Terkini