Kebijakan ambigu AS terhadap Taiwan — tidak secara jelas menyatakan akan bertindak militer jika Taiwan diserang — juga memicu kekhawatiran. Meskipun Presiden sebelumnya, Joe Biden, sempat menyatakan bahwa AS akan membela Taiwan, ketidakpastian tetap membayangi terutama dengan gaya kepemimpinan Trump yang lebih konfrontatif dan minim perhatian terhadap konflik seperti di Ukraina.
Baca Juga: Kemendesa PDTT Gelar Festival Bangun Desa 2025: Ajak Desa-Desa Tunjukkan Inovasi Terbaik
Daya tarik utama investor terhadap Taiwan terletak pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC), produsen chip kontrak terbesar di dunia. Perusahaan ini adalah penyuplai utama bagi raksasa teknologi seperti Nvidia dan Apple, serta memainkan peran kunci dalam membawa pasar saham Taiwan ke rekor tertinggi awal tahun ini.
“TSMC begitu besar hingga banyak investor berharap AS akan turun tangan membela Taiwan jika terjadi konflik,” kata Dave dari Aravali. “Itu adalah harapan utama.”
Namun, TSMC juga tak luput dari kebijakan proteksionis Trump, termasuk tarif yang dikenakan sejak April lalu dan penundaan pungutan bea demi negosiasi ulang dengan berbagai negara.
Baca Juga: Harga Beras Melonjak, Menteri Pertanian Jepang Mundur: Pemerintahan Ishiba Kian Tertekan
Beberapa manajer investasi lokal menyebut meski tidak ada cara pasti untuk mengamankan portofolio dari perang sungguhan, masih ada opsi lindung nilai untuk menghadapi kepanikan pasar. Namun, Li Fang-kuo dari Uni-President Securities di Taiwan menilai kekhawatiran investor asing terlalu berlebihan.
“Kita seharusnya tidak melihatnya dari sudut risiko geopolitik. Masalah utamanya adalah tarif,” tegasnya.