Langkah Trump ini secara signifikan memperkuat posisi politik al-Sharaa yang masih menghadapi tantangan besar di dalam negeri pasca penggulingan Bashar al-Assad pada Desember lalu. Pemerintahannya masih berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan di tengah kekacauan internal dan serangan balasan dari kelompok loyalis Assad serta faksi militan.
Sementara itu, Israel menanggapi dengan keprihatinan, mengingat catatan masa lalu Sharaa yang masih dianggap bermasalah. Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi.
Selain isu Suriah, kunjungan Trump ke Timur Tengah juga mencakup agenda bisnis besar. Arab Saudi dilaporkan telah menyepakati komitmen investasi senilai $600 miliar ke AS, termasuk penjualan senjata senilai $142 miliar.
Trump juga dijadwalkan mengunjungi Doha, Qatar, pada Rabu malam, di mana pemerintah Qatar akan mengumumkan paket investasi bernilai ratusan miliar dolar. Salah satu sorotan adalah rencana Qatar Airways membeli 100 unit pesawat widebody dari Boeing.
Baca Juga: Hakim AS Restui Trump Pakai Undang-Undang Kuno untuk Usir Anggota Geng
Tak kalah kontroversial, Trump dikabarkan menerima sebuah pesawat Boeing 747-8 yang dirancang khusus sebagai Air Force One sebagai hadiah dari Qatar. Pesawat mewah ini direncanakan akan dijadikan bagian dari museum perpustakaan kepresidenannya. Namun, langkah tersebut menimbulkan kemarahan dari kalangan Demokrat dan sejumlah pejabat keamanan yang menilai hadiah itu dapat menimbulkan kesan konflik kepentingan dan potensi korupsi.
Baca Juga: India Siapkan Balasan Dagang untuk AS, Pertimbangkan Pengenaan Bea Masuk Baru
Setelah kunjungan ke Qatar, Trump dijadwalkan melanjutkan lawatannya ke Abu Dhabi untuk bertemu dengan para pemimpin Uni Emirat Arab, sebelum kemungkinan menghadiri pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Turki.