Meski pasar menyambut positif, sejumlah analis tetap mewaspadai ketidakpastian lanjutan.
Jan von Gerich, Kepala Analis Pasar di Nordea, menyatakan, “Pasar cenderung menerima ini secara harfiah, tapi saya masih ragu. Ini baru awal. Kita pernah lihat hal serupa pada pengumuman 2 April lalu, dan akhirnya penuh ketidakpastian lagi.”
Baca Juga: Trump Tarik Diri dari Jalur Damai, AS-Ukraina Kunci Aliansi Ekonomi dan Militer
Sementara itu, Jane Foley dari Rabobank menilai pasar telah mengantisipasi kabar baik ini sejak dini, “Ada optimisme bahwa negosiasi berjalan positif dan kedua negara tak ingin benar-benar berpisah secara ekonomi. Tapi, ini tetap hanya jeda sementara, belum menghapus tarif dasar yang masih berlaku."
Kenneth Broux dari Societe Generale menambahkan, “Tarif atas barang Tiongkok diturunkan ke 30%, dan tarif Tiongkok atas barang AS turun ke 10%. Ini sinyal positif bagi aset berisiko dan ekonomi AS secara keseluruhan.”
Baca Juga: Biden Kritik Trump soal Ukraina: “Menyerah pada Rusia Adalah Penenangan Gaya Baru
Dari Hong Kong, ekonom utama Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menyebut langkah ini sebagai kejutan positif. “Saya kira tarif akan turun ke 50%, ternyata lebih rendah lagi. Ini sangat baik untuk rantai pasok global, meskipun hanya berlaku tiga bulan.”
Arne Petimezas dari AFS Group menyatakan, “Perubahan sikap AS yang tajam ini mengejutkan. Trump tampaknya melunak lebih cepat dari yang diperkirakan. Kini pasar punya alasan kuat untuk pulih.”
Baca Juga: Serangan Trump terhadap Industri Film Merupakan Tanda Penghinaan terhadap Orang Asing
Apa Selanjutnya?
Walaupun ini dianggap langkah maju, para pengamat menekankan bahwa masa depan kesepakatan jangka panjang masih belum pasti. Dengan waktu 90 hari yang singkat, negosiasi mendalam masih harus dilakukan untuk merumuskan kesepakatan dagang permanen.