Trump sebelumnya menyatakan bahwa tarif sebesar 80% terhadap produk Tiongkok adalah angka yang "masuk akal," memberi sinyal bahwa penyesuaian kebijakan mungkin sedang dipertimbangkan meski belum ada komitmen konkret.
Baca Juga: Biden Kritik Trump soal Ukraina: “Menyerah pada Rusia Adalah Penenangan Gaya Baru
Perbedaan Narasi, Tujuan Sama
Menariknya, baik Washington maupun Beijing saling mengklaim sebagai pihak yang dihubungi terlebih dahulu terkait pembicaraan ini. AS menekankan bahwa Tiongkok harus membuka akses pasar dan mengurangi ketergantungan pada model ekonomi proteksionis. Di sisi lain, Tiongkok melalui kantor berita Xinhua menyebut kebijakan tarif AS sebagai “penyalahgunaan yang sembrono” dan menyerukan pendekatan dialogis.
Baca Juga: Serangan Trump terhadap Industri Film Merupakan Tanda Penghinaan terhadap Orang Asing
Meski ekspektasi terhadap terobosan besar masih rendah, para analis menilai bahwa kesediaan kedua pihak untuk duduk bersama merupakan langkah positif. Menteri Ekonomi Swiss, Guy Parmelin, yang ikut memfasilitasi pembicaraan, menyebut pertemuan ini sebagai keberhasilan diplomatik. “Jika perundingan ini berujung pada peta jalan lanjutan, itu akan menurunkan ketegangan secara signifikan,” ujarnya.
Baca Juga: TRUMP ANCAM FILM LUAR NEGERI: TARIF 100% SIAP DITERAPKAN, HOLLYWOOD DIPAKSA “PULANG KAMPUNG”
Kesimpulan: Awal Baru atau Sekadar Gencatan Senjata?
Belum jelas apakah pembicaraan ini akan menghasilkan kesepakatan konkrit atau hanya jeda sementara dalam perang dagang yang sedang berlangsung. Namun, setidaknya untuk saat ini, dunia bisa berharap pada jalur diplomatik yang mulai dibuka kembali oleh dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.