Untuk memperkuat laporan ini, sebuah studi oleh University of Rochester menunjukkan bahwa pasangan yang terbuka dalam komunikasi dan membangun kepercayaan dua arah cenderung lebih tahan terhadap godaan pihak ketiga.
Kasus “dua keluarga hancur” ini menjadi pengingat keras bahwa dampak dari cinta terlarang bukan hanya pada pelaku, tetapi juga pada anak-anak, keluarga besar, hingga lingkungan sosial di sekitarnya.
Banyak pasangan yang awalnya hanya mencari pelarian, justru harus menanggung beban berat: kehilangan keluarga, harga diri, hingga reputasi.
Baca Juga: Jalani Sanksi Adat Kaili untuk Fuad Plered: Jalan Damai yang Bermartabat di Tanah Sulawesi
Fenomena semacam ini kembali menegaskan pentingnya menjaga integritas dan komunikasi dalam rumah tangga.
Perselingkuhan mungkin dimulai dengan senyum bahagia, tapi seringkali berakhir dengan air mata, penyesalan, dan puing-puing kehidupan yang tak mudah diperbaiki.***