peristiwa

Tangis Penyintas KM Nurul Salsa Pecah: Terpaksa Lepaskan Tiga Jasad Rekan ke Laut Demi Bertahan Hidup

Senin, 20 Juli 2026 | 12:03 WIB
FOTO: Tampak Asmal dan Nurmiati ditemukan nelayan KM Mattoangin di Pulau Balaloho Kabupaten Pangkep, Sabtu, 18/7. (Dok.Nelayan KM Mattoangin)

Inti berita:

• Kesaksian dua penyintas KM Nurul Salsa mengungkap dilema paling memilukan selama lima hari bertahan di atas styrofoam.

• Asmal dan Nurmiati terpaksa melepaskan tiga jasad rekannya ke laut demi menjaga rakit darurat tetap mengapung dan menyelamatkan nyawa mereka.

 

MetroSelebes.com, MAKASSAR – Selama lima hari, Asmal (24) dan Nurmiati (46) tidak hanya bertarung melawan lapar, haus, panas matahari, dan ganasnya ombak Laut Selayar-Flores. Mereka juga harus bertahan dalam tekanan batin yang nyaris mustahil dibayangkan: hidup berdampingan dengan tiga jasad rekan seperjalanan yang meninggal satu per satu di atas selembar styrofoam yang menjadi satu-satunya harapan mereka untuk tetap hidup.

Kesaksian memilukan itu terungkap setelah Tim SAR Gabungan mengevakuasi keduanya dari Pulau Balaloho, gugusan Kepulauan Sabalana, Kabupaten Pangkep. Setelah KM Nurul Salsa tenggelam pada Rabu lalu, lima penumpang berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke atas selembar gabus berukuran terbatas. Namun, lautan tidak memberi ampun. Gelombang tinggi, sengatan matahari, dinginnya malam, serta dehidrasi ekstrem perlahan merenggut nyawa tiga orang di antara mereka.

Baca juga: Hari Keempat Pencarian KM Nurul Salsa: Manifes Bertambah Jadi 78 Orang, 25 Penumpang Masih Hilang 

Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Didid Imawan, mengatakan berdasarkan keterangan awal para penyintas, Asmal dan Nurmiati tetap bertahan di atas styrofoam yang sama bersama tiga jasad tersebut selama hampir dua malam. Dalam ruang yang semakin sempit, mereka terus memeluk pelampung, diterpa ombak tanpa mengetahui apakah pertolongan akan datang atau justru maut yang lebih dulu menghampiri.

Situasi berubah semakin mencekam ketika styrofoam mulai kehilangan keseimbangan akibat beban yang terus bertambah, sementara jasad ketiga korban mulai mengalami proses pembusukan alami di bawah terik matahari. Di tengah kelelahan fisik dan guncangan psikologis yang luar biasa, keduanya dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah ingin diambil siapa pun.

Baca juga: Update KM Nurul Salsa Tenggelam: Puluhan Penumpang Masih Hilang, KRI Marlin-877 Dikerahkan Sisir Laut Selayar

"Kedua korban mengaku terpaksa melepaskan jenazah ketiga rekannya ke laut lepas setelah sekitar dua malam terombang-ambing bersama. Keputusan itu diambil demi menjaga stabilitas styrofoam agar mereka yang masih hidup tidak ikut tenggelam," ungkap AKBP Didid Imawan. Keputusan tersebut bukan karena mereka menyerah kepada rekan-rekannya, melainkan menjadi satu-satunya cara agar rakit darurat itu tetap mengapung dan memberi peluang bagi dua nyawa yang masih tersisa.

Pilihan yang menyayat hati itu akhirnya menjadi titik balik keselamatan mereka. Styrofoam yang lebih ringan terus hanyut mengikuti arus hingga akhirnya mencapai perairan sekitar Pulau Balaloho. Di lokasi itulah Asmal dan Nurmiati ditemukan serta diselamatkan kru kapal nelayan KM Bari Baria 05 setelah lima hari terombang-ambing tanpa makanan maupun air bersih yang memadai.

Baca juga: Spanyol Akhiri Penantian 16 Tahun, Ferran Torres Jadi Pahlawan Saat Argentina Tumbang di Extra Time 

Kesaksian kedua penyintas kini menjadi informasi penting bagi Tim SAR Gabungan. Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan pengakuan tersebut mengubah peta pencarian. Radius operasi kini diperluas dengan menghitung pola arus laut sejak waktu jasad dilepaskan, termasuk pencarian udara menggunakan pesawat Boeing B737-200 TNI AU di kawasan perairan Sabalana hingga mendekati wilayah Nusa Tenggara.

Halaman:

Tags

Terkini