“Ahlan Wa Sahlan, Abdallah”: Dari Sudan, Mimpi Menjadi Farmasis Berlabuh di UMI Makassar

photo author
Ali Murtadha, Metro Selebes
- Minggu, 13 September 2026 | 10:45 WIB
Civitas akademika Fakultas Farmasi UMI berfoto bersama Abdallah Mohammed, mahasiswa internasional asal Sudan, dalam Studium Generale 2026. (Foto: Istimewa) (Ali Haydar)
Civitas akademika Fakultas Farmasi UMI berfoto bersama Abdallah Mohammed, mahasiswa internasional asal Sudan, dalam Studium Generale 2026. (Foto: Istimewa) (Ali Haydar)

Fakultas Farmasi UMI sendiri menyebut pengembangan riset bahan alam dan khasiat herbal Indonesia sebagai salah satu fokus akademiknya, dengan dukungan laboratorium untuk berbagai bidang kefarmasian.

Satu Mahasiswa, Pintu Internasionalisasi yang Lebih Lebar

Kisah Abdallah sebenarnya tidak berdiri sendiri karena Kantor Urusan Internasional UMI mencatat mahasiswa asing telah hadir melalui berbagai skema pada sejumlah fakultas, termasuk Farmasi, Kedokteran, Teknik, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi, Ilmu Komputer, Sastra, dan program pascasarjana.

UMI bahkan pada Juli 2026 melakukan rangkaian seleksi calon mahasiswa internasional di Pusat Budaya Indonesia, Dili, Timor-Leste, yang melibatkan tiga fakultas rumpun kesehatan, termasuk Fakultas Farmasi, sebagai bagian dari penguatan kerja sama pendidikan lintas negara.

Internasionalisasi perguruan tinggi pada akhirnya tidak cukup diukur dari banyaknya kerja sama yang ditandatangani atau jumlah mahasiswa asing yang datang, tetapi dari sejauh mana perjumpaan lintas negara mampu menciptakan pertukaran pengetahuan, bahasa, pengalaman, budaya, dan perspektif di dalam ruang akademik.

Bagi mahasiswa Indonesia, duduk satu ruang dengan Abdallah berarti mempunyai kesempatan mengenal Sudan dan Afrika bukan semata melalui buku atau layar digital, tetapi melalui persahabatan dengan seseorang yang tumbuh dalam masyarakat dan pengalaman budaya berbeda.

Bagi Abdallah, Makassar sebaliknya menjadi laboratorium sosial baru untuk memahami Indonesia, bahasa, tradisi, kehidupan akademik, dan wajah Islam Nusantara sambil menempuh pendidikan kefarmasian.

Di titik itulah seorang mahasiswa internasional dapat memberikan sesuatu yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka: mengubah ruang kelas lokal menjadi ruang perjumpaan global.

Dan bagi Abdallah, ucapan “Ahlan Wa Sahlan” di Auditorium Al-Jibra bukanlah akhir dari sebuah perjalanan panjang dari Sudan, melainkan awal perjalanan yang jauh lebih besar—belajar ilmu obat di Makassar, membangun persahabatan lintas bangsa, lalu suatu hari membawa pengetahuan itu kembali untuk kemanusiaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ali Murtadha

Rekomendasi

Terkini

X