METROSELEBES.com ,MAKASSAR — Ribuan kilometer dari Sudan ke Makassar ditempuh Abdallah Mohammad Bakheet Abdallah untuk mengejar cita-citanya menjadi farmasis, dan Sabtu, 12 September 2026, pemuda asal Afrika Timur itu resmi diperkenalkan sebagai mahasiswa internasional Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Angkatan 2026 dalam Studium Generale Fakultas Farmasi di Auditorium Al-Jibra, Kampus II UMI, Makassar.
Di tengah ratusan mahasiswa baru yang memenuhi auditorium, kehadiran Abdallah terasa berbeda karena ia datang membawa bukan hanya identitas sebagai mahasiswa baru, melainkan juga cerita tentang keberanian meninggalkan negeri sendiri demi memperoleh pendidikan di Indonesia.
“Ahlan wa sahlan,” menjadi ungkapan yang tepat untuk menyambut Abdallah, sebuah sapaan Arab yang bermakna selamat datang dan sekaligus menggambarkan penerimaan hangat keluarga besar Fakultas Farmasi UMI kepada mahasiswa internasionalnya.
Tahun akademik 2026/2027 mencatat 265 mahasiswa baru bergabung di Program Sarjana Farmasi UMI, dan berdasarkan data fakultas yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Abdallah menjadi satu-satunya mahasiswa internasional dalam angkatan itu.
“Begin Your Journey, Create Your Future” menjadi pesan yang disematkan kepadanya, seolah mengingatkan bahwa perjalanan panjang dari Sudan menuju Makassar baru merupakan halaman pertama dari masa depan yang sedang ia bangun.
Sebelum duduk di ruang kuliah, Abdallah bahkan telah menjalani pengalaman khas mahasiswa baru UMI melalui Pekan Pesantren Mahasiswa Baru di Pesantren Mahasiswa Unggulan Darul Mukhlisin, Padanglampe, Kabupaten Pangkep, pada gelombang pertama 7–9 September 2026 bersama mahasiswa Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
“Perjalanan dari Sudan ke Indonesia memang sangat jauh, tetapi tekad saya untuk mendalami ilmu farmasi jauh lebih besar,” kata Abdallah sebagaimana dikutip Portal Berita UMI pada 8 September 2026.
Ia juga mengaku kehangatan yang diterimanya sejak tiba membuat Indonesia tidak terasa sepenuhnya asing, sementara pilihannya terhadap UMI didorong keinginan memperoleh pendidikan kefarmasian sekaligus belajar dalam lingkungan yang menjunjung nilai-nilai Islam.
Abdallah berharap ilmu yang kelak diperolehnya tidak berhenti sebagai gelar akademik, tetapi dapat dibawa pulang untuk memberi manfaat kepada masyarakat di negaranya.
Dari Studium Generale Menuju Farmasi Digital
Penyambutan Abdallah mendapat momentum khusus dalam Studium Generale 2026 bertema “Beyond Pharmacy: Digital Transformasi dan Masa Depan Farmasis”, ketika mahasiswa baru diajak melihat bahwa dunia kefarmasian yang mereka masuki sedang berubah jauh melampaui pekerjaan konvensional meracik dan menyediakan obat.
Wakil Rektor I UMI, Prof. Dr. Ir. H. Dirgahayu A. Lantara, M.T., IPU., ASEAN Eng., menerima kehadiran mahasiswa internasional tersebut di hadapan mahasiswa baru dan sivitas akademika Fakultas Farmasi sebagai bagian dari semangat internasionalisasi pendidikan UMI.
Kehadiran Abdallah menjadi relevan dengan arah pengembangan Fakultas Farmasi UMI yang secara resmi menempatkan keunggulan dan profesionalisme kefarmasian pada tingkat global sebagai visinya, disertai misi mengembangkan kerja sama internasional.
Program Sarjana Farmasi yang kini dimasuki Abdallah berstatus Akreditasi Baik Sekali, sedangkan Program Profesi Apoteker dan Magister Farmasi Fakultas Farmasi UMI telah memperoleh Akreditasi Unggul.
Di balik tema “Beyond Pharmacy”, mahasiswa juga berhadapan dengan transformasi nyata profesi farmasi ketika digitalisasi, kecerdasan buatan, analisis data kesehatan, farmasi presisi, dan perkembangan bioteknologi semakin mengubah cara obat diteliti, dikembangkan, didistribusikan, hingga dipantau penggunaannya.
Karena itu, mahasiswa farmasi masa kini tidak cukup hanya memahami senyawa dan formulasi obat, tetapi perlu memiliki literasi digital, kemampuan membaca data, pemahaman etik, komunikasi lintas budaya, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi kesehatan.