pemerintahan

Isu “Kudeta Senyap” Oktober 2026 Mengarah ke Prabowo, Prediksi Said Didu atau Ancaman Politik?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:41 WIB
FOTO: Prabowo (kanan), Said Didu (kiri), menyoroti isu “kudeta senyap” Oktober 2026 terhadap Prabowo kembali menjadi sorotan. Benarkah ancaman nyata atau sebatas analisis. (Dok.Threads@fakta_nasional)

Inti berita:

• Said Didu memprediksi adanya “kudeta senyap” terhadap pemerintahan Prabowo dengan titik penting pada Oktober 2026.

• Isu itu diungkap dalam podcast. Namun, hingga kini belum ada bukti independen yang mengonfirmasi skenario tersebut.

 

METROSELEBES.com, JAKARTA – Percakapan politik Indonesia kembali menghangat setelah nama Presiden Prabowo Subianto dikaitkan dengan sebuah skenario yang disebut sebagai “kudeta senyap”. Prediksi itu datang dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, yang menyebut Oktober 2026 sebagai titik penting dalam tekanan politik terhadap pemerintahan Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan Said Didu dalam podcast Abraham Samad SPEAK UP di YouTube. Ia menyebut gerakan yang dimaksud bukan kudeta militer secara terbuka, melainkan manuver politik yang berlangsung perlahan dari dalam dan luar pemerintahan. Said bahkan menyebut targetnya adalah Oktober 2026.

Baca juga: Karhutla Kaltim Meluas, 936 Hektare Hutan dan Lahan Terbakar di 413 Titik 

Yang membuat pernyataan itu menarik perhatian adalah istilah “Segitiga SSB” yang digunakan Said Didu. Ia mengaitkannya dengan Singapura, Solo, dan Bandung, serta menggambarkan adanya jejaring kepentingan politik dan ekonomi yang menurutnya berpotensi menekan pemerintahan. Namun, dugaan mengenai jaringan tersebut sejauh ini masih berupa klaim dan analisis pribadi Said Didu, bukan temuan yang telah dibuktikan secara independen.

Dalam penjelasannya, Said Didu juga menyinggung dugaan pembangkangan dan sabotase struktural di lingkungan pemerintahan. Ia menilai terdapat pihak-pihak yang tidak sepenuhnya sejalan dengan agenda Presiden Prabowo, terutama dalam persoalan penertiban tambang ilegal dan perambahan hutan. Ia bahkan mendorong evaluasi terhadap jajaran kabinet, termasuk kemungkinan reshuffle.

Baca juga: Ruben Onsu Jadi Tersangka Dugaan Penipuan dan Penggelapan, Polisi Siapkan Pemeriksaan 

Di sisi lain, penting memisahkan antara fakta bahwa pernyataan tersebut benar-benar disampaikan dan kebenaran isi prediksinya. Sampai informasi yang tersedia saat ini, tidak terdapat konfirmasi independen yang membuktikan bahwa skenario “kudeta senyap”, Segitiga SSB, atau rencana pelengseran Prabowo pada Oktober 2026 benar-benar sedang berlangsung. Karena itu, narasi tersebut belum dapat diposisikan sebagai fakta politik yang terverifikasi.

Baca juga: Aksi Haru Atlet Cilik Jiu-Jitsu Mengalah demi Lawan Disabilitas, Bukti Nyata Kemanusiaan di Atas Matras 

Said Didu sendiri menyampaikan pandangannya sebagai pembacaan atas dinamika politik yang ia lihat. “Ini gerakan kudeta senyap… Targetnya betul Oktober 2026, ronde terakhir,” ujar Said Didu dalam podcast tersebut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu yang beredar bersumber dari analisis seorang tokoh politik, bukan pengumuman resmi mengenai adanya gerakan pengambilalihan kekuasaan.

Baca juga: Putusan Terbaru MK: Kuota Caleg Perempuan 30 Persen Wajib Dipenuhi, Ini Sanksinya 

Halaman:

Tags

Terkini