UNESCO bahkan telah menetapkan beberapa bahasa daerah di Indonesia sebagai "terancam punah".
Dalam konteks ini, Sekolah Lontara hadir sebagai bentuk nyata dari upaya penyelamatan bahasa dan budaya lokal yang tidak hanya edukatif tetapi juga strategis dalam pembangunan identitas bangsa.
Sebagai penguat, artikel dari Tirto.id (2023) menyebutkan bahwa pelestarian aksara lokal seperti Lontara bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Bukan Pulau Gag, Aktivitas Dua Perusahaan Ini Justru Ancam Geopark Raja Ampat
Digitalisasi aksara Lontara bahkan telah mulai digagas agar dapat lebih mudah diakses oleh generasi muda.
Dengan kata lain, inisiatif seperti Sekolah Lontara bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi juga merangkai masa depan — sebuah harapan akan kebangkitan budaya lokal di era modern.***