Mengintip Fenomena Passion Economy, Dari Hobi Jadi Ladang Cuan Para Konten Kreator

photo author
REDAKSI, Metro Selebes
- Senin, 25 Agustus 2025 | 11:04 WIB
Ilustrasi seorang konten kreator yang menyalurkan hobinya hingga menjadi sumber keuntungan.  (Foto : Freepik.com)
Ilustrasi seorang konten kreator yang menyalurkan hobinya hingga menjadi sumber keuntungan. (Foto : Freepik.com)

JAKARTA, METROSELEBES.COM – Di era digital, semakin banyak anak muda Indonesia yang berhasil mengubah hobi menjadi sumber penghasilan.

Fenomena ini dikenal sebagai passion economy, tren global yang memungkinkan minat pribadi berkembang menjadi karya, identitas, hingga ladang cuan.

Contoh nyatanya bisa dilihat dari sejumlah konten kreator yang lahir dari sekadar berbagi kesukaan sederhana. Salah satunya Nessie Judge, kreator YouTube bertema misteri yang sukses memikat jutaan penonton lewat gaya bercerita khas.

Baca Juga: OJK Turunkan Target Pertumbuhan Kredit, Perbankan Diminta Realistis Atur Ekspansi 2025

Minatnya terhadap sejarah dan kisah unik kini menjelma menjadi konten yang ditunggu-tunggu penggemarnya.

“Modal utama bukan uang, melainkan keberanian mengekspresikan diri dan membangun koneksi dengan audiens,” demikian keterangan Mighty Networks, Sabtu 23 Agustus 2025.

Fenomena serupa juga terlihat pada Windah Basudara, streamer gaming yang dikenal akrab dengan komunitas “bocil kematian”. Popularitasnya bukan hanya karena kepiawaian bermain game, melainkan interaksi hangat dan humor yang membuat pengikutnya merasa dekat.

Baca Juga: Remaja Dinilai Perlu Belajar Investasi Kripto Meski Risiko Tinggi

Kreator lain, Fadil Jaidi bersama sang ayah, Pak Muh, turut menunjukkan sisi unik passion economy. Konten keluarga yang sederhana dan spontan justru berhasil membangun kedekatan emosional dengan audiens, membuat mereka selalu ditunggu di berbagai platform media sosial.

Lantas, dari mana tren ini bermula? Penelusuran menunjukkan bahwa Generasi Z menjadi motor utama lahirnya passion economy. Terbiasa dengan teknologi sejak kecil, mereka lebih memilih menyalurkan kreativitas melalui konten digital daripada terikat pekerjaan kantoran.

Pandemi Covid-19 semakin mempercepat tren ini. Saat banyak orang bekerja dari rumah, muncul kesadaran bahwa mencari nafkah tidak harus selalu di kantor.

Baca Juga: Indonesia Dorong Protokol Jakarta Soal Royalti Global, Malaysia Beri Dukungan Penuh

Passion economy pun dipandang sebagai model kerja baru yang lebih fleksibel, sesuai kebutuhan zaman, dan memberi ruang luas bagi siapa saja untuk memonetisasi keterampilan.

Kini, berkat perkembangan media sosial dan platform digital, siapa pun bisa mencoba. Tidak perlu menjadi selebritas besar, cukup hadir dengan sesuatu yang unik dan konsisten, peluang untuk menjadikan hobi sebagai ladang penghasilan semakin terbuka lebar. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mahful Haruna

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Prabowo Tegaskan Komitmen Rakyat dan Keamanan Nasional

Selasa, 2 September 2025 | 19:20 WIB
X