Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para penceramah dalam menyampaikan pesan keagamaan yang relevan dan kontekstual bagi masyarakat.
Sunanto, Juru Bicara Kemenag, menambahkan bahwa kedua negara juga bersinergi dalam proyek masjid MBZ Solo yang telah aktif sejak 2023.
Baca Juga: Kopi dan Gaya Hidup Kurang Gerak: Penelitian Terbaru Mengungkap Efek Positif Kopi Terhadap Kesehatan
Ke depannya, Kementerian Agama berencana mengembangkan platform digital untuk networking masjid, dengan inspirasi dari UEA, agar program masjid dapat berdampak langsung pada masyarakat sekitar.
Menurut Sunanto, pertemuan Menag di Dubai juga membahas pengembangan masjid sebagai pusat syiar Islam yang penuh dengan rahmah, serta memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan UEA. "Kerja sama ini bertujuan untuk menciptakan dunia yang lebih damai, sejahtera, dan saling menghormati," ungkap Sunanto.
Dalam konteks global yang semakin kompleks, kerja sama kedua negara juga fokus pada upaya memperkuat moderasi beragama, yang menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global. "Melalui kerja sama ini, diharapkan dapat terbangun masyarakat yang lebih harmonis dan toleran," tutupnya.
Terkait ketidakhadiran Yaqut pada rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Sunanto menjelaskan bahwa Menteri Agama masih menjalankan tugas negara di UEA.
Yaqut telah menawarkan untuk mengikuti rapat secara daring, mengingat teknologi memungkinkan rapat diadakan secara hybrid.***
Artikel Terkait
Cuma Butuh Waktu 5 Menit! Begini Cara Mendapatkan Kartu Indonesia Pintar atau KIP Secara Online
Kopi dan Gaya Hidup Kurang Gerak: Penelitian Terbaru Mengungkap Efek Positif Kopi Terhadap Kesehatan
Kementerian Agama Siapkan Anggaran Rp.848 Miliar untuk Pembangunan Madrasah melalui SBSN pada 2025
Transisi Pengawasan Sistem Merit ASN Pasca Alih Fungsi KASN ke BKN Berjalan Lancar
Prabowo Subianto Sampaikan Terima Kasih Untuk Komisi I DPR RI atas Penyelesaian RUU Kerja Sama Pertahanan dengan Lima Negara