MOSKOW,METROSELEBES.COM-Upaya hukum miliarder Rusia yang dipenjara, Ziyavudin Magomedov, untuk menggugat perusahaan minyak milik negara Rusia, Transneft, kandas setelah Pengadilan Banding Inggris menolak permohonan bandingnya. Seperti dikutip dari Reuters pada Kamis, (05/06/2025).
Baca Juga: Produksi Suzuki Swift Terhenti Akibat Pembatasan Ekspor Rare Earth oleh China
Gugatan senilai $14 miliar yang diajukan Magomedov terhadap Transneft dan sejumlah perusahaan lainnya di Pengadilan Tinggi London sebelumnya telah ditolak pada Januari lalu. Magomedov menuduh bahwa penangkapannya pada tahun 2018 atas tuduhan penggelapan merupakan bagian dari skema yang didukung negara untuk mengambil alih aset-aset berharganya, termasuk saham di operator pelabuhan strategis.
Selain Transneft, perusahaan ekuitas swasta asal Amerika Serikat, TPG, turut menjadi tergugat dalam perkara ini. Para tergugat berhasil memenangkan mosi untuk menggugurkan gugatan tersebut pada awal tahun ini.
Baca Juga: Logam Tanah Jarang: Pembatasan Ekspor China Lumpuhkan Industri Otomotif Global
Dalam pernyataannya yang dirilis Rabu malam, Transneft mengonfirmasi bahwa Pengadilan Banding Inggris telah menolak permohonan Magomedov untuk mengajukan banding atas keputusan sebelumnya.
"Proses hukum di Inggris telah menunjukkan bahwa kerugian besar yang dialami Tuan Magomedov adalah akibat dari tindakan salah yang ditujukan padanya. Ia akan terus mencari keadilan dan hasil yang adil di mana pun ia bisa," kata juru bicara Magomedov.
Baca Juga: Setelah Terapkan Jam Malam, Gubernur Jabar Larang Guru Beri PR kepada Siswa
Ziyavudin Magomedov, yang sebelumnya merupakan salah satu tokoh bisnis terkemuka di Rusia, membangun kerajaan bisnis bernama Summa Group bersama saudaranya, Magomed. Konglomerat tersebut memiliki kepentingan di berbagai sektor, mulai dari logistik pelabuhan hingga minyak dan gas.
Namun, pada tahun 2018, kedua bersaudara itu ditangkap dan didakwa atas tuduhan penggelapan serta keterlibatan dalam kejahatan terorganisir. Kasus ini menjadi salah satu penuntutan paling mencolok dalam beberapa tahun terakhir di Rusia.