internasional

Logam Tanah Jarang: Pembatasan Ekspor China Lumpuhkan Industri Otomotif Global

Kamis, 5 Juni 2025 | 15:48 WIB
Seorang buruh bekerja di lokasi tambang logam tanah jarang di Kabupaten Nancheng, Provinsi Jiangxi, pada 14 Maret 2012. Source FOTO: REUTERS

BERLIN/FRANKFURT,METROSELEBES.COM-Ketegangan perdagangan global kembali meningkat setelah keputusan China untuk membatasi ekspor logam tanah jarang dan magnet terkait memicu krisis pasokan yang melumpuhkan industri otomotif di Eropa dan negara lain. Seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (05/06/2025).

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Satgas Madago Raya Intensif Sisir Jalur Pegunungan Poso

Beberapa pabrik komponen otomotif di Eropa telah menghentikan produksi akibat kehabisan bahan baku penting. Mercedes-Benz, salah satu raksasa otomotif Jerman, tengah menyusun strategi untuk melindungi rantai pasokannya dari kekurangan material. Sementara itu, BMW melaporkan gangguan dalam jaringan pemasoknya, meskipun operasional pabrik utama masih berjalan normal.

 

Langkah China pada April lalu untuk menangguhkan ekspor berbagai jenis logam tanah jarang menimbulkan gejolak besar. Industri otomotif, kedirgantaraan, semikonduktor, dan pertahanan di seluruh dunia sangat bergantung pada material ini yang vital dalam transisi energi hijau dan teknologi tinggi. China saat ini menguasai sekitar 90% produksi logam tanah jarang global, dan hampir seluruh produksi logam tanah jarang berat, yang paling bernilai, berasal dari negara tersebut.

Baca Juga: Living Plaza Palu Resmi Dibuka, Wali Kota Hadianto: Ini Tonggak Sejarah Baru

Sherry House, Kepala Keuangan Ford, mengungkapkan bahwa pembatasan ekspor ini menambah tekanan pada sistem pasokan otomotif yang sangat terorganisir. "Terkadang prosesnya berjalan mulus, tapi tidak jarang juga menimbulkan hambatan. Kami masih bisa mengelola situasinya, namun ini tetap menjadi masalah yang belum terselesaikan," ujarnya dalam sebuah konferensi investor.

 

Di tingkat kebijakan, Uni Eropa mempercepat langkah diversifikasi sumber bahan baku. Komisaris Perdagangan UE, Maros Sefcovic, menyatakan bahwa ia dan mitranya dari China sepakat untuk segera mengklarifikasi kebijakan ekspor tersebut. Sementara itu, Komisaris Strategi Industri, Stephane Sejourne, menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap satu negara. “Kami tidak boleh 100% tergantung pada negara mana pun, terutama China,” katanya.

Baca Juga: Fase Puncak Haji Dimulai, Jemaah Indonesia Bergerak Menuju Arafah untuk Wukuf

Asosiasi Pemasok Otomotif Eropa (CLEPA) mengonfirmasi bahwa beberapa jalur produksi telah ditutup karena kehabisan pasokan. Dari ratusan permintaan lisensi ekspor yang diajukan sejak April, hanya seperempat yang disetujui, sementara sebagian besar ditolak karena alasan prosedural. CLEPA memperingatkan akan adanya potensi gangguan lebih lanjut dalam waktu dekat.

 

Sementara itu, produsen otomotif seperti ZF Friedrichshafen dan BorgWarner berupaya mengembangkan motor listrik dengan kandungan logam tanah jarang yang minimal, namun tantangan produksi massal dan efisiensi biaya masih membatasi solusi jangka pendek. BMW, misalnya, sudah menggunakan motor listrik bebas magnet untuk lini kendaraan terbaru, namun masih membutuhkan logam tanah jarang untuk motor kecil pada komponen seperti penghapus kaca dan jendela listrik.

Baca Juga: Pelatih China Was-Was Hadapi Timnas Indonesia, Sebut GBK Kandang yang Menakutkan

Halaman:

Tags

Terkini