Pejabat PBB mengatakan bahwa masalah keamanan telah menghambat pergerakan bantuan dari pusat logistik di perbatasan Kerem Shalom. Namun, pada Rabu malam, muncul harapan bahwa distribusi dapat mulai berjalan lebih lancar.
Nahid Shahaiber, pemilik perusahaan transportasi besar, melaporkan bahwa 75 truk berisi tepung dan belasan truk lainnya yang membawa makanan tambahan dan gula telah memasuki wilayah Rafah di selatan Gaza. Truk-truk bantuan juga terlihat di Deir Al-Balah, wilayah tengah Gaza.
Baca Juga: Papua Terkoneksi: Transformasi Digital Menembus Pedalaman
Israel mulai memberlakukan blokade total terhadap pasokan ke Gaza sejak Maret lalu, dengan alasan bahwa Hamas menyita bantuan yang seharusnya untuk warga sipil—klaim yang dibantah oleh kelompok tersebut.
Di bawah tekanan internasional yang meningkat, Israel mengizinkan pengiriman terbatas oleh PBB dan organisasi bantuan lain, hingga model distribusi baru yang didukung Amerika Serikat mulai diterapkan akhir bulan ini. Namun, PBB menyatakan tidak akan terlibat karena model tersebut dianggap tidak netral.
Baca Juga: Kopbeat Jingle Competition: Suara Kreatif Bangun Ekonomi Desa Lewat Nada Koperasi Merah Putih
Sementara itu, kekerasan terus berlanjut. Serangan udara dan tembakan tank Israel menewaskan sedikitnya 50 orang di seluruh Jalur Gaza pada Rabu, menurut otoritas kesehatan Palestina. Militer Israel menyebut telah menyerang 115 target yang mencakup peluncur roket, terowongan, dan infrastruktur militer lainnya.
Upaya untuk menghentikan perang masih menemui jalan buntu. Hamas menuntut diakhirinya perang secara total dan penarikan penuh pasukan Israel, sementara Israel bersikeras bahwa Hamas harus dilucuti senjatanya dan meninggalkan Gaza.
Baca Juga: Tarif Balasan Berkurang, Tapi Apakah Ini Akhir dari Ketegangan Dagang?
Netanyahu menyatakan bahwa serangan udara Israel bulan ini kemungkinan besar telah menewaskan Mohammed Sinwar, pemimpin senior Hamas, dan menegaskan kembali tuntutannya atas demiliterisasi total Gaza serta pengasingan para pemimpin Hamas sebagai syarat perdamaian.
Melanjutkan serangan sejak Maret setelah jeda dua bulan, Israel mendapat kecaman dari negara-negara seperti Inggris dan Kanada yang biasanya berhati-hati mengkritik Israel. Bahkan Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, mulai menunjukkan ketidaksabaran terhadap Netanyahu.