Putin, dalam pernyataan yang dirilis pada pukul 02.00 dini hari waktu Moskow, menolak syarat gencatan senjata yang diajukan Eropa. Ia menyarankan agar delegasi Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul pada Kamis mendatang untuk memulai proses perundingan.
Namun, nada keras juga muncul dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang mengejek para pemimpin Eropa dan menuduh mereka membuat ancaman bodoh. “Macron, Merz, Starmer, dan Tusk bukan membawa damai ke Kyiv, melainkan gertakan,” tulisnya di media sosial.
Moskow sebelumnya telah mengumumkan gencatan senjata sepihak selama tiga hari mulai 8 Mei untuk memperingati Hari Kemenangan Soviet dalam Perang Dunia II, tetapi pertempuran di garis depan terus berlangsung. Ukraina menilai langkah itu hanya untuk melindungi Moskow dari serangan drone saat parade militer berlangsung.
Baca Juga: India Dan Pakistan Di Ambang Perang Terbuka, Wilayah Udara Ditutup Usai Serangan Rudal
Diamnya AS dan Perubahan Sikap Washington
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih terkait ultimatum tersebut, Presiden Trump menyampaikan pesan singkat kepada wartawan bahwa “perang bodoh ini harus segera diakhiri.” Ia menolak menyalahkan salah satu pihak secara langsung namun menyebut bahwa kedua belah pihak harus bertindak untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance — yang dikenal skeptis terhadap bantuan ke Ukraina — secara mengejutkan mengkritik sikap Rusia, menyebut bahwa tuntutan Kremlin untuk menghentikan bantuan Barat sebagai syarat perdamaian adalah tidak realistis.
Baca Juga: RI Desak India-Pakistan Tahan Diri, Rudal Ditembakkan, Korban Berjatuhan
Tanda-Tanda Eskalasi Lanjutan
Kekhawatiran akan eskalasi semakin meningkat setelah kedutaan besar AS di Kyiv mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan serangan udara besar dalam beberapa hari mendatang. Rusia juga dikabarkan akan menutup wilayah udara di sekitar Kapustin Yar — lokasi uji coba rudal — pada awal pekan ini, memicu spekulasi tentang uji coba misil balistik.