Palestina dikuasai oleh suku Arab, termasuk suku Kanenan, sejak sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi. Raja Malki Syadq bersama rakyatnya membangun peradaban Arab di Palestina.
Sebuah ayat dalam Al-Quran juga mencerminkan bahwa kaum Yahudi pada waktu itu menolak memasuki Palestina, yang dijuluki "Tanah yang diberkahi."
Keberanian kaum Yahudi dalam menguasai Palestina dapat dijelaskan melalui hadis yang menyebutkan bahwa mereka takut hingga pada akhir zaman, umat Islam akan memerangi mereka, bahkan pohon dan batu akan berbicara, kecuali Pohon Gahrqad.
Kepercayaan ini mendasari ambisi kaum Yahudi untuk menguasai Masjid Al-Aqsa, karena mereka meyakini bahwa di bawahnya terdapat Kuil Sulaiman, yang jika dikuasai akan membawa kemuliaan bagi bangsa Yahudi.
Mereka bahkan mempromosikan penanaman Pohon Gahrqad dan berpendapat bahwa ini adalah tanda kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Wisata Pantai di Jember Jawa Timur, Kaum Hawa Wajib Kunjungi, Berikut Potretnya
Meskipun kaum Yahudi mencoba untuk menyamarkan nama Pohon Gahrqad dengan sebutan lain, fakta-fakta ini mengungkapkan bahwa mereka mempercayai hadis Nabi tentang keutamaan Pohon Gahrqad.
Hal ini juga mencerminkan bahwa apa yang disampaikan Nabi bukan sekadar untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai peringatan bagi seluruh umat manusia.
Kejadian-kejadian ini menggarisbawahi kompleksitas konflik di Palestina dan peran simbolis Pohon Gahrqad dalam narasi tersebut.***