Hari Damai Aceh ke-21 Berubah Tegang, 10 Tuntutan Massa Soroti Syariat, SDA hingga Masa Depan Aceh

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:25 WIB
Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Banda Aceh berujung ricuh. Massa menyampaikan 10 tuntutan terkait syariat, SDA, HAM, masa depan Aceh. (Dok.Instagram@info_aceh)
Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Banda Aceh berujung ricuh. Massa menyampaikan 10 tuntutan terkait syariat, SDA, HAM, masa depan Aceh. (Dok.Instagram@info_aceh)

Inti berita:

• Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Masjid Raya Baiturrahman berujung ricuh setelah upaya pengibaran bendera Bulan Bintang.

• Sementara massa menyampaikan 10 tuntutan terkait syariat Islam, sumber daya alam, infrastruktur, HAM, dan hak menentukan nasib sendiri.

 

METROSELEBES.com, BANDA ACEH – Suasana khidmat peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), berubah tegang ketika muncul upaya pengibaran bendera Bulan Bintang di tengah rangkaian doa dan zikir.

Ketegangan tersebut membuat situasi di sekitar lokasi sempat ricuh. Aparat keamanan kemudian melakukan pengamanan, sementara massa tetap menyampaikan aspirasi yang telah disiapkan dalam bentuk petisi berisi 10 tuntutan kepada pemerintah.

Baca juga: Mahasiswa Papua di Makassar Terlibat Bentrok di Jalan Sultan Alauddin, Sempat Terjadi Saling Lempar Batu 

Koordinator aksi, Tgk Muslim At-Thahiry, mengatakan tuntutan itu merupakan suara masyarakat Aceh yang dinilai masih memiliki sejumlah persoalan terkait pelaksanaan perdamaian, kesejahteraan, sumber daya alam, hingga penegakan keadilan.

Salah satu tuntutan yang mendapat sorotan adalah desakan agar pemerintah menghormati pelaksanaan syariat Islam secara kaffah serta memperkuat kelembagaan Wilayatul Hisbah. Massa juga meminta adanya regulasi penggunaan media sosial yang disesuaikan dengan syariat dan kearifan lokal, sekaligus menolak judi online, narkoba, prostitusi, serta berbagai persoalan sosial lainnya.

Baca juga: Dua Dekade KKLT, Diaspora Luwu Timur Didorong Naik Kelas Jadi Kekuatan Pembangunan

Dari sisi ekonomi dan pengelolaan sumber daya, massa mendesak pengembalian hak pengelolaan tanah wakaf Blang Padang kepada Masjid Raya Baiturrahman. "Kami menolak rencana pipa gas dari Blok Andaman menuju Pulau Jawa dan meminta sumber daya gas Aceh lebih diprioritaskan untuk kesejahteraan masyarakat setempat, serta mendesak penghentian eksploitasi SDA yang mereka nilai merugikan Aceh," ujar Tgk Muslim At-Thahiry saat membacakan tuntutan massa aksi.

Tuntutan lainnya menyasar pemulihan infrastruktur yang rusak akibat bencana hidrometeorologi dan ajakan kepada berbagai elemen masyarakat Aceh untuk memperkuat persatuan. Massa juga membawa isu sejarah dan keadilan dengan meminta penyelesaian dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu serta mendorong pembahasan kembali status politik Aceh melalui mekanisme yang mereka tuntut kepada komunitas internasional.

Baca juga: Update Gempa NTT M7,7: 47 Orang Meninggal, 346 Rumah Rusak dan Data Korban Masih Potensi Bertambah 

Di sisi lain, kericuhan yang terjadi menunjukkan bahwa peringatan damai tersebut tidak sepenuhnya berjalan kondusif. Aparat masih melakukan pengamanan di sekitar lokasi untuk mencegah situasi kembali memanas, sementara 10 tuntutan yang dibacakan massa menjadi catatan penting dalam momentum 21 tahun perdamaian Aceh. (*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X