Inti berita:
• Penelitian Unhas menggunakan pendekatan DNA lingkungan untuk mengkaji komunitas ikan di daerah tangkapan air Danau Matano.
• Presentasi di University of Antwerp memperluas pertukaran akademik sekaligus membahas hubungan penelitian biodiversitas dengan konservasi.
METROSELEBES.com, BELGIA— Mengenali jenis ikan di perairan tidak selalu harus bergantung pada penangkapan dan pengamatan fisik. Jejak materi genetik yang tertinggal di lingkungan kini menjadi salah satu pendekatan yang digunakan peneliti untuk mengungkap keanekaragaman hayati, termasuk ikan di kawasan Danau Matano, Sulawesi Selatan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari penelitian Prof. Dr. Ir. Nadiarti, M.Sc., dari Universitas Hasanuddin (Unhas), yang dipresentasikan dalam forum akademik di Departemen Biologi, University of Antwerp, Belgia, Kamis (15/10/2026). "Penelitian ini mengkaji biodiversitas ikan di daerah tangkapan air Danau Matano menggunakan metode environmental DNA (eDNA)," ujar Prof. Nadiarti.
Baca juga: BPOM Buka Peluang Investasi Farmasi Rusia, Transfer Teknologi Jadi Fokus Kerjasama
Teknik eDNA memanfaatkan materi genetik yang ditemukan dalam sampel lingkungan untuk membantu mendeteksi keberadaan organisme. Dalam penelitian biodiversitas, metode ini dapat menjadi pelengkap identifikasi konvensional dan membantu peneliti mempelajari komposisi komunitas ikan di sejumlah lokasi pengambilan sampel.
Dalam pemaparannya, Nadiarti membahas komposisi komunitas ikan antarlokasi serta penerapan pendekatan molekuler dalam kajian perairan. Pembahasan tersebut relevan bagi pengembangan metode penelitian biodiversitas, terutama untuk memahami variasi organisme yang hidup pada lingkungan perairan berbeda.
Baca juga: Kader Demokrat Bulukumba Dorong Appi Dipilih Aklamasi di Musda Sulsel
Danau Matano menjadi objek penting dalam kajian tersebut karena penelitian diarahkan pada keanekaragaman ikan di kawasan tangkapan airnya. Meski demikian, pemaparan yang disampaikan belum dapat dimaknai sebagai bukti bahwa metode eDNA telah menggantikan seluruh teknik survei konvensional ataupun bahwa penelitian tersebut telah menghasilkan temuan spesies baru.
Nadiarti juga membawa perspektif konservasi melalui perannya sebagai Ketua Thematic Research Group Aquatic Macrofaunal Biodiversity and Conservation (TRG AMBioC) Unhas. Kelompok ini mengembangkan penelitian makrofauna perairan dengan menggabungkan pendekatan ekologi, taksonomi, dan molekuler pada ekosistem air tawar maupun laut.
Baca juga: Tahanan Tewas Diduga Gantung Diri di Polsek Kajang, Begini Tanggapan Kapolres Bulukumba
Pertanyaan dari peserta University of Antwerp turut menyoroti faktor ekologi yang memengaruhi distribusi spesies serta peran masyarakat dalam penelitian dan pemantauan biodiversitas. Nadiarti menilai keterlibatan masyarakat penting untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan konservasi.