MENTARI KKN PK 69 Unhas Ajak Remaja Tellu Boccoe Siapkan Masa Depan, Cegah Pernikahan Dini dan Stunting

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Senin, 3 Agustus 2026 | 04:51 WIB
KKN PK 69 Unhas melalui program MENTARI mengedukasi remaja Tellu Boccoe tentang pencegahan pernikahan dini dan kaitannya dengan risiko stunting. (Dok.KKN PK 69 Unhas)
KKN PK 69 Unhas melalui program MENTARI mengedukasi remaja Tellu Boccoe tentang pencegahan pernikahan dini dan kaitannya dengan risiko stunting. (Dok.KKN PK 69 Unhas)

Inti berita:

• Mahasiswa KKN PK 69 Unhas mengedukasi 93 pelajar di Desa Tellu Boccoe melalui program MENTARI.

• Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menunda pernikahan hingga siap secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi.

• Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting sejak remaja.

 

METROSELEBES.com, BONE – Masa depan tidak selalu dimulai ketika seseorang menginjak pelaminan. Di Desa Tellu Boccoe, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan (KKN PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin justru mengajak para remaja memulainya dengan keputusan yang lebih sederhana: menata masa depan sebelum memutuskan menikah.

Pesan itu dikemas melalui program MENTARI (Menata Masa Depan Tanpa Pernikahan Dini) yang menyasar pelajar di Desa Tellu Boccoe. Program tersebut lahir dari hasil observasi mahasiswa yang menemukan bahwa pernikahan pada usia remaja masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Edukasi kemudian diarahkan bukan semata untuk melarang pernikahan dini, melainkan membuka pemahaman mengenai konsekuensi kesehatan dan pentingnya kesiapan sebelum membangun keluarga.

Baca juga: KKN Mahasiswa PK Unhas Angkatan 69 Dorong Program TANGGUH Cegah Penyakit Kulit di Desa Tellu Boccoe Bone 

Sebanyak 22 siswa MTsS Tinco dan 50 siswa MAS Tinco mengikuti sesi pertama pada 18 Juli 2026. Lima hari kemudian, edukasi berlanjut di SMP Negeri 4 SATAP Ponre dengan melibatkan 21 siswa. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan keterkaitan usia perkawinan, kehamilan remaja, kesehatan ibu dan anak, hingga risiko yang dapat berkontribusi terhadap stunting.

Di hadapan para pelajar, materi tidak berhenti pada persoalan gizi. Peserta diajak memahami bahwa kehamilan pada usia remaja memiliki sejumlah risiko kesehatan, termasuk anemia, kekurangan energi kronis, komplikasi kehamilan, serta kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah atau prematur. Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan pendekatan sejak sebelum seseorang menjadi orang tua.

Baca juga: Program SIAGA HIPERDIA KKN-PK Unhas Dorong Warga Tellu Boccoe Cegah Hipertensi dan Diabetes 

Untuk memastikan materi tidak berhenti sebagai ceramah, kegiatan dikemas secara interaktif. Peserta terlebih dahulu mengerjakan pre-test, kemudian mengikuti pemaparan menggunakan presentasi dan poster, dilanjutkan diskusi serta tanya jawab. Post-test diberikan pada akhir sesi untuk melihat perubahan pemahaman peserta setelah memperoleh edukasi.

Penanggung jawab program MENTARI KKN PK 69 Unhas, Meisha Aurelia Titaley, mengatakan edukasi tersebut diarahkan agar remaja melihat pencegahan stunting dari perspektif yang lebih luas. “Melalui program MENTARI, kami ingin memberikan pemahaman kepada remaja bahwa pencegahan stunting tidak hanya dimulai saat seseorang menjadi orang tua, tetapi juga sejak masa remaja,” ujarnya. Menurutnya, kesiapan fisik, mental, dan ekonomi perlu menjadi pertimbangan sebelum seseorang memasuki kehidupan pernikahan.

Baca juga: Usai Tegur Mahasiswi Diduga Berpakaian Ketat, Kaprodi BK Unmuh Barru Diberhentikan, Bawa Polemik ke PWM Sulsel 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X